Selasa, 30 Desember 2014

Jodohku di Ujung Mimpi



“Sebenarnya, seperti apa sich yang kamu cari, Nay?” Tanya seorang teman. 
Sempet bingung juga sich ngejawabnya. Ku coba tanya pada diri sendiri dan hatiku menjawab;
Aku tak mengharapkan yang muluk-muluk, tak harus lulusan S2 (tapi kalo ada sich alhamdulillah J, jujur ya... ), tak harus kaya dan punya mobil mewah (yang penting cerdas dan tekun cari nafkah dan suka dunia enterpreuneur), ga harus yang ganteng banget (standard lah... yang adem dipandang dan ga punya kebiasaan jorok plus ga merokok tentunya J). Ga harus anak priyayyi (yang penting akhlaknya karimah dan bisa jadi panutan keluarga dan masyarakat).

Dari sekian kriteria, yang utama adalah yang aku ridho dengan agamanya dan sifat baiknya sehingga aku ridho untuk melangkah bersamanya mengabdi pada Allah.

Selebihnya, betapa bahagia jika dapat suami orang yang sabar, cerdas, bijaksana, ga segan bantuin pekerjaan rumah, menghargai istri, berpikiran terbuka dan mau maju bersama dan optimis. Apalagi kalo ngajinya bagus, ibadah sunnahnya OK, aktifis, lulusan pondok ... hehe subhaanallah... “emang ada???? Kalopun ada, emangnya mau sama kamu, Nay?” tanya dalam hati.
Ya Allah.... give me the best.

_19 Juli 2013 @ 10.15 p.m._

_Puncak kerinduan terindah adalah ketika keduanya tiada saling berkomunikasi secara langsung, akan tetapi keduanya dalam diam saling mendoakan_

Hai kamu, kamu yang di sana ...

Siapapun kamu!
Maaf, aku tak menyapa dengan nama karena aku sendiri belum tau siapakah namamu dan belum tau dimana kau berada.

Hai kamu, siapapun kamu. Dimanapun kamu berada ...
Semoga Allah mengabulkan do’aku, do’amu, do’a kita. 
Meski mungkin kita belum pernah bertemu, atau sudah pernah bertemu namun belum saling tau.

Semoga kelak Allah mempertemukanku denganmu; menyatukan hatimu, hatiku, hati kita menjadi satu dalam ridho Nya. Berbalut rasa syukur dan niat suci yang terpatri di hati untuk merangkai bahagia yang abadi.

Hai kamu, yang aku tak tau siapakah kamu ...
Bersabarlah, karena sesungguhnya aku juga mennati saat pertemuan kita. Jagalah hatimu. Adapun kesalahan dan ketidaksempurnaan kita, semoga Allah mengampuni dan membimbing kita ke jalan Cahaya agar kita dapat memperbaiki diri.

Hai kamu yang di sana, entah dimana...
Mungkinkah malam ini hadir dalam mimpiku??? 

Tawakkaltu ‘alallah ... 

_21 Juli 2013 @ 10. 10 p.m._

Astaghfirullah ...walhamdulillah... 
kebawa mimpi beneran. 
Selama ini kalo mimpi menikah, pasti dalam mimpi itu aku menangis. Selalu pernikahanku dalam mimpi sebab dijodohkan atau entah yang jelas aku ga tau  dengan siapa, tiba-tiba aku dinikahkan tanpa ada rasa ridho di hatiku. 

Tapi berbeda dengan semalem. Aku mimpi di resepsi pernikahanku ramai tamu dan aku juga merasa bahagia. Hingga salah satu tamu bertanya padaku “siapa nama mempelai putranya?”. Dalam mimpi itu aku yang bahagia sempet bingung menjawab pertanyaan itu, karena aku juga tak tau siapakah dia yang telah menjadi suamiku; terus lucunya... aku menjawab dengan santainya “oh.... itu liat aja di undangan”. Pas buka undangan kayaknya ada nama di situ, tapi pas bangun lupa siapa namanya. (haha... geli sendiri, pengen ketawa kalo inget jawabanku dalam mimpi itu).

Gitu ya rasanya jadi pengantin... ? 
Seneng rasanya, tapi siapa mempelai putranya???
Mimpi itu... kembangnya tidur, atau mungkin cara Tuhan membagi rasa bahagia untukku meski belum di dunia nyata. Thanks, God 


_22 Juli 2013 @10.30 p.m. _

1 komentar: