Sempet bingung juga sich ngejawabnya. Ku coba tanya pada diri
sendiri dan hatiku menjawab;
Aku tak mengharapkan yang muluk-muluk, tak harus lulusan S2
(tapi kalo ada sich alhamdulillah J,
jujur ya... ), tak harus kaya dan punya mobil mewah (yang penting cerdas dan
tekun cari nafkah dan suka dunia enterpreuneur), ga harus yang ganteng banget
(standard lah... yang adem dipandang dan ga punya kebiasaan jorok plus ga
merokok tentunya J).
Ga harus anak priyayyi (yang penting akhlaknya karimah dan bisa jadi panutan
keluarga dan masyarakat).
Dari sekian kriteria, yang utama adalah yang aku ridho dengan
agamanya dan sifat baiknya sehingga aku ridho untuk melangkah bersamanya
mengabdi pada Allah.
Selebihnya, betapa bahagia jika dapat suami orang yang
sabar, cerdas, bijaksana, ga segan bantuin pekerjaan rumah, menghargai istri,
berpikiran terbuka dan mau maju bersama dan optimis. Apalagi kalo ngajinya
bagus, ibadah sunnahnya OK, aktifis, lulusan pondok ... hehe subhaanallah...
“emang ada???? Kalopun ada, emangnya mau sama kamu, Nay?” tanya dalam hati.
Ya Allah.... give me the best.
_19 Juli 2013 @ 10.15 p.m._
_Puncak kerinduan terindah adalah ketika keduanya tiada
saling berkomunikasi secara langsung, akan tetapi keduanya dalam diam saling
mendoakan_
Hai kamu, kamu yang di sana ...
Siapapun kamu!
Maaf, aku tak menyapa dengan nama karena aku sendiri belum tau siapakah namamu
dan belum tau dimana kau berada.
Hai kamu, siapapun kamu. Dimanapun kamu berada ...
Semoga Allah mengabulkan do’aku, do’amu, do’a kita.
Meski
mungkin kita belum pernah bertemu, atau sudah pernah bertemu namun belum saling
tau.
Semoga kelak Allah mempertemukanku denganmu; menyatukan hatimu, hatiku,
hati kita menjadi satu dalam ridho Nya. Berbalut rasa syukur dan niat suci yang
terpatri di hati untuk merangkai bahagia yang abadi.
Hai kamu, yang aku tak tau siapakah kamu ...
Bersabarlah, karena sesungguhnya aku juga mennati saat
pertemuan kita. Jagalah hatimu. Adapun kesalahan dan ketidaksempurnaan kita,
semoga Allah mengampuni dan membimbing kita ke jalan Cahaya agar kita dapat
memperbaiki diri.
Hai kamu yang di sana, entah dimana...
Mungkinkah malam ini hadir dalam mimpiku???
Tawakkaltu ‘alallah ...
_21 Juli 2013 @ 10. 10 p.m._
Astaghfirullah ...walhamdulillah...
kebawa mimpi beneran.
Selama
ini kalo mimpi menikah, pasti dalam mimpi itu aku menangis. Selalu pernikahanku dalam mimpi sebab dijodohkan
atau entah yang jelas aku ga tau dengan
siapa, tiba-tiba aku dinikahkan tanpa ada rasa ridho di hatiku.
Tapi berbeda dengan
semalem. Aku mimpi di resepsi pernikahanku ramai tamu dan aku juga merasa
bahagia. Hingga salah satu tamu bertanya padaku “siapa nama mempelai
putranya?”. Dalam mimpi itu aku yang bahagia sempet bingung menjawab pertanyaan
itu, karena aku juga tak tau siapakah dia yang telah menjadi suamiku; terus
lucunya... aku menjawab dengan santainya “oh.... itu liat aja di undangan”. Pas
buka undangan kayaknya ada nama di situ, tapi pas bangun lupa siapa namanya.
(haha... geli sendiri, pengen ketawa kalo inget jawabanku dalam mimpi itu).
Gitu ya rasanya jadi pengantin... ?
Seneng rasanya, tapi siapa mempelai putranya???
Mimpi itu... kembangnya tidur, atau mungkin cara Tuhan
membagi rasa bahagia untukku meski belum di dunia nyata. Thanks, God
_22 Juli 2013 @10.30 p.m. _

orang itu bernama gigih
BalasHapus