Selasa, 30 Desember 2014

Hari Gini Patah Hati? Zaman Sekarang Cinta Bertepuk sebelah Tangan? Atau Merana karena Cinta Terpendam? Apa Kata Dunia???


Semanis Cokelat, Sepahit Kopi Pekat

Hari ini Ari bersiap-siap berangkat sekolah lebih awal. Semua tampak seperti biasa; Mantum (MANdi TUjuh Menit), lupa matiin lampu kamar mandi and lupa nggak jemur handuk. Namun ada yang beda pada diri Ari pagi ini. Sejak dua puluh lima menit yang lalu setelah mandi dia belum juga keluar dari kamarnya, padahal jam di meja belajarnya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Berulang kali ia sisir rambut gaya Mandarinnya. Disemprotkannya minyak wangi ke bajunya hingga tersisa beberapa tetes aja (ya iyalah, wong minyak itu dah lama banget turun temurun sejak zamannya buyut muda, he2…). Selidih punya selidik, hari ini dia mau berangkat bareng ma Amel naik angkutan umum ke sekolah. Ari rela berjalan kaki sampai jalan raya dengan wajah berseri-seri dan nggak terasa tuh capek di kaki. Tak kenal lelah, seperti habis minum jamu kuat,  semuanya terasa semanis cokelat. Padahal, biasanya kemana-mana minta dianter Pak Bejo, supirnya. Begitulah cinta, segalanya rela dikorbankan untuk si dia…(ciee…)
Sesampainya di jalan raya bertemulah Ari dan Amel, tapi OMG (Oh My God…!) Ari malah segera berpaling muka dan meninggalkan Amel, Gadis yang membuatnya berubah seratus tujuh puluh derajat (lebaay…) dari sebelumnya. Pasalnya, saat itu Ari melihat Amel yang sedang  menunggu angkutan tiba-tiba di sambar (upz, kayak petir aja…) maksudnya Amel di hampiri Dino dan diboncengin dengan motor bebeknya. Hancur-hancur…jantungku…sakit hatiku. Begitulah cinta, deritanya tiada akhir…(Patt kay banget…)
Lain Ari lain Arif, ikhwan super idealis itu bener-bener JAIM kalau sudah berbicara masalah cinta. Ia memang seorang yang terkenal mahir di antara teman-temannya, sudah punya pekerjaan tetap, sudah hafal 6 juz dan sudah cukup dewasa (Harus itu, kan udah 25 tahun…). Suatu hari terjadilah perbincangan antara Arif dan Ali, teman di organisasi pemuda masjid.



“Eh, Rif menurutmu Hanin itu gimana? Maksudnya, apa kamu ga ada rasa ama dia? Secara, dia tuh kan cantik, cerdas, sholihah. Laki-laki mana coba yang ga mau jadi suaminya? ”
“Ah, biasa aja kali Li, dia itu kan teman akrab ku dari kecil. Jadi…ya …biasa aja”
“So, kamu ga ada rasa ma dia? syukurlah, baguslah kalo gitu…(Ali berlalu sambil senyum-senyum sendiri)”
“”e…e…e…Li…tunggu, ya keburu kabur lagi tuh anak”.
Dua minggu sesudahnya Arif mendengar kabar bahwa Hanin telah dikhitbah Ali. Airmata Arif menetes seusai tahajud malam itu.
“Ya Allah, mengapa tidak dari dulu aku menyatakan rasa hatiku pada Hanin dan mengkhitbahnya…(nasi sudah menjadi lontong…eh salah bubur…).”
Kalo dah gini, semua jadi sepahit kopi pekat, habis cokelatnya tinggal belepotannya. Bawaannya sebeel melulu, menangis semalam tak berairmata (ganggu orang tidur aja…he2…).

***

The Power of Love
Cinta memang sesuatu yang luar biasa. Muara cinta adalah sumber energy yang bisa merubah seseorang yang lemah menjadi kuat, mengubah hidup menjadi indah, membuat gula jawa terasa cokelat (ce..ile…) tapi cinta juga juga bisa membuat orang tak berdaya, patah semangat, dan dunia serasa berguncang (huh, lebay…) saat harapan cinta tidak sesuai dengan realitas yang ada.
Makanya hati-hati ketika akan memutuskan kepada siapa kita akan memberikan cinta kita. Jangan sampai kita memberikan cinta kepada orang yang tidak tepat (istri orang ditaksir…husz!, kurang ajar itu namanya…). Satu lagi, JAIM boleh aja selama itu tidak berlebihan karena Allah juga tidak  menyukai orang yang lebay. Innallaha laa yuhibbul musrifiin. Apalagi memendam cinta hanya karena JAIM yang berlebihan. Kalau sudah siap lahir batin, ngapain nunggu? Ya nggak? Ga dosa kok menyatakan cinta dan mengkhitbah wanita yang

kita cintai selama alasan kita itu benar. Bukankah wanita itu dinikahi karena empat hal: Hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan Agamanya. Dan spesial bagi laki-laki yang menikahi seorang wanita karena kebaikan agamanya, maka itulah sebaik-baik pilihan.
Cinta memang bukan benda yang dapat diraba. Betapapun penyair mencoba mendefinisikan cinta, tak akan cukup berjuta puisi yang tertulis untuk dapat mengungkap apa itu cinta. Bahkan banyak orang menyimpulkan bahwa “cinta itu sesuatu yang abstrak, tapi nyata untuk dirasa”. Betapa  dahsyatnya kekuatan cinta, hingga seorang Mujahid rela mengorbankan jiwanya di jalan jihad fi sabilillah, Abu Bakar menahan rasa sakit gigitan hewan beracun karena tidak ingin membangunkan Rasululloh SAW. yang saat itu tidur dipangkuannya, seorang Khodijah merelakan harta kekayaanya dipergunakan untuk jalan dakwah Rasululloh SAW.
Ya, kita tidak dapat menafikan akan kenyataan betapa berpengaruhnya the Power of Love (kayak lagunya Celine Dion aja…) terhadap diri seorang pencinta. Meski demikian, bukan berarti cinta itu buta, kemudian diikuti cemburu buta apalagi dengan mengejar cinta dengan membabi buta (loh, kok jadi bawa-bawa nama babi, haram tuh…he2…). Kita tidak perlu mengikuti Romeo yang dengan dalih cinta sehidup semati lalu ikut bunuh diri hanya gara-gara Juliet, pujaan hatinya telah meninggal dunia. Begitu pula saat cinta kita tak terbalas, bukannya terus menempuh jalan sesat dengan semboyan “cinta ditolak dukun bertindak” (hari gini, masih main dukun…so what gitu loh! ). Seumpama cinta kita tidak terbalas, mungkin saja Allah akan mempertemukan kita dengan orang yang lebih baik dan yang lebih tepat untuk menjadi pendamping hidup kita.
 Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia sebagai satu-satunya makhluk Allah yang dikaruniai akal pikiran dan perasaan. Saat kita memutuskan untuk  jatuh cinta pada seseorang, kita selayaknya seorang peserta dalam sebuah kompetisi. Kompetitor sejati harus sportif dalam menghadapi kompetisi yang diikutinya karena sebuah kompetisi akan berujung pada dua kenyataan, yaitu menang atau kalah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yag paling sempurna dan setiap orang memiliki kelebihan masing-masing yang belum tentu dimiliki orang lain. Jadi, bukan tidak mungkin kita mencintai seseorang dan orang lain juga mencintai orang yang kita cinta. Oleh sebab itu, kita harus siap “bersaing” secara sportif. Kalau toh orang yang

kita cintai tidak mencintai kita ataupun lebih memilih orang lain, itu sudah resiko. So, tidak perlu kita patah hati, apalagi sampai bunuh diri (udah gitu, masuk neraka lagi,hii…ngeri… mau???). Intinya terletak pada keberanian menghadapi kenyataan baik itu pahit ataupun manis, kerelaan dan keikhlasan serta keyakinan bahwa apapun yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik. Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan. Dia lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.
***

Ekspresikan dirimu dan Temukan Cintamu!

Ada yang bilang cinta itu seperti kentut (upsz…kok langsung pada tutup hidung…?); ditahan bikin sakit perut, dikeluarkan bikin semua kening yang di sekelilingnya berkerut. Lagian…siapa juga yang suruh nahan, tapi bukan berarti kita bebas umbar di sembarang tempat. Segala sesuatu ada tempat dan saatnya yang tepat. Bagi para pemuda yang terjangkit virus cinta, usah resah usah curiga. Mendingan kita dengerin lagu yang satu ini. Check it out!
Kalo cinta sudah membara, aha…aha…
Rindu jadi menggebu-gebu, uhu…uhu…
Huuh…dasar obsesi jadi penyiar radio, udah…udah…suaramu tak sebagus Bang Jamal, justru terlalu “MERDU” (MERusak DUnia!). Memang tak ada seorangpun yang bias melarikan diri dari makhluk bernama cinta. Cinta sengaja diciptakan Allah SWT sebagai suatu karunia. Oleh sebab itu cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT, Sang Maha Pencinta yang tak pernah terputus cinta-NYA.  Setelah itu di urutan kedua disusul cinta kepada Rosululloh SAW (hei…bukan saatnya siaran!). Adapun cinta di antara manusia dan cinta kepada makhluk adalah hal yang sah-sah saja. Kita boleh saja mencintai ibu kita, keluarga kita, sahabat kita, termasuk barang-barang berharga yang kita miliki.
            Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(QS.Ali Imron:14)
           
           
Dalam ilmu psikologi ada sebagian orang yang tergolong introvert yang cenderung enggan untuk mengungkapkan secara terang-terangan apa yang dia rasakan. Sebagian mereka lebih memilih untuk memendam dalam-dalam apa yang ada di benak mereka, baik itu hal yang menyedihkan maupun yang menyenangkan, termasuk juga cinta. Namun, berbeda dengan orang yang ekspresif, mereka cenderung terbuka atas apa yang mereka rasakan. Sangat sulit untuk memendam ketika ada hal yang ingin diungkapkan, apalagi soal cinta.
            Berkaitan dengan cinta, dalam Islam tidak ada satupun larangan bagi umatnya untuk merasakan cinta apalagi untuk menyempurnakannya dalam ikatan suci. Islam memiliki aturan sendiri untuk bercinta. Kawula muda memang masih sangat labil, apalagi jika sudah bersentuhan dengan kata yang satu ini. Untuk kasus yang satu ini (emangnya pencurian…pembunuhan…) Islam menawarkan alternatif khusus bagi yang berjiwa muda.

Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin (menikah), karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi, Bulughul Maram min Adilatil Ahkam, Kitab Nikah, hadits ke 1)

            So, nggak usah bĂȘte gitu donk kalo terkena virus merah jambu (baca: cinta). Kalo memang kamu udah mampu dan siap untuk membina cinta, ya udah langsung tancap gas aja, but jangan asal ngebut ya…lihat rambu-rambunya. Tiap daerah ada adatnya masing-masing, jadi jangan asal nyelonong kalo mau ngelamar anak orang. Bisa-bisa ditilang nanti. Oke…oke…?
            Nah, bagi kamu-kamu yang belum mampu untuk menjemput mahligai bahagia dalam cinta yang sempurna, nggak usah terburu nafsu (sabar dikit, Mas…Mbak…). Mendingan kamu maksimalkan aja dulu potensi dan bakat kamu untuk berprestasi. Syukur-syukur bagi yang melengkapi masa mempersiapkan dirinya dengan berpuasa akan lebih baik dan lebih terjaga.
***
           



            Harus Cantik lah, smart lah, sholihah lah, pinter masak lah, majalah, sekolah, jamilah….
            Yang Sholih dong, tajir dong, ganteng dong , ramah dong, kedondong, berondong….
            Setiap orang pasti punya kriteria sendiri-sendiri saat ditanya tentang kriteria calon pendamping hidupnya, apalagi cowok gaul sekarang;  “kalo gue sich ga’ pake repot milih cewek .Buat gue, yang penting tinggi besar, semok, putih, matanya tajam, pokoknya…sempurna”. Nggak sekalian aja tuh ditambah satu kriteria lagi “…berekor” biar lengkap and jadi deh nikah ma sapi tetangga di kampoeng.
            Kita boleh kok menentukan standard calon pendamping hidup kita, tapi kita juga harus tahu bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Selain itu, kita juga musti sadar diri dan introspeksi. Almuhsiniina lil muhsinaati…so, kalo pengen punya soulmate dengan seabreg kriteria, kamu juga musti berusaha menyeimbangkan diri kamu untuk bisa menjadi seperti apa yang kamu standard kan sebagai kriteria, are you ready?.
            Woi, yang ngerasa laki-laki! Milih calon istri jangan asal cantik doang. Carilah istri yang bisa kamu percaya untuk jadi ibu yang bakalan mendidik anak-anak kamu kelak. Tentang katakter dan kepribadian, selama itu masih dalam taraf yang wajar it’s ok lah, yang penting kamu harus berjiwa pemimpin, so, Nggak kayak kerbau yang dicocok hidungnya. Eiit…,tapi juga jangan sewenang-wenang ya…kerjasama dan saling melengkapi itu lebih baik untuk keharmonisan.
            Buat kamu yang merasa cewek nih…okelah bercita-cita pengen punya suami tampan,  tajir, kaya (kaya? Kaya’ apa? Monyet, kucing, buaya atau macan?), tapi ada beberapa hal yang musti kamu catat biar nggak salah pilih pendamping hidup. Pertama, tuh orang musti tahu agama. Setidaknya sholat lima waktu nggak bolong lah…syukur bisa ngaji bagus and  luas pemahamannya tentang ilmu agama Islam. coz dia tuh yang bakal jadi imam kamu kelak, nggak cuma imam dalam artian sempit, tapi dialah yang akan memimpin keluarga agar terbina sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Selanjutnya pilihlah orang yang punya ketrampilan untuk mencari nafkah coz dialah yang jadi kepala keluarga nantinya. Soal kaya atau miskin itu bisa fleksibel. Sebagai manusia kita berusaha semaksimal mungkin dan dengan disertai berdo’a untuk mewujudkan keinginan kita, selanjutnya serahkan sama Allah SWT.

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.  Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaaq: 3)
Now, what are you waiting for? Wake up and plan your future! Bagi kamu-kamu yang dah pada siap, buruan…awas kehabisan…(huuh…emangnya diskonan di swalayan…).
Menikah mengurangi dosa dan maksiat
Menikah menyatukan bahagia dan nikmat
Rezeki manusia Allah pengaturnya
Jangan takut bila kau niat untuk menikah
Berbahagialah manusia yang telah menemukan fithrahnya
Untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera bila saatnya telah tiba
Jangan jadikan alasan untuk menunda
                                                          (Nasyid: Ar-Royyan)

Bagi yang belum siap and belum mampu, sabar dulu ya… rajinin shaumnya :)


(Finished on Thursday, July 15, 2010@01.51 p.m.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar