Semanis Cokelat,
Sepahit Kopi Pekat
Hari ini Ari bersiap-siap berangkat sekolah lebih awal.
Semua tampak seperti biasa;
Mantum (MANdi TUjuh Menit), lupa matiin lampu kamar mandi and lupa nggak jemur handuk. Namun ada yang beda pada diri Ari pagi ini.
Sejak dua puluh lima menit yang lalu setelah mandi dia belum juga keluar dari
kamarnya, padahal jam di meja belajarnya sudah menunjukkan pukul setengah
tujuh. Berulang kali ia sisir rambut gaya Mandarinnya. Disemprotkannya minyak
wangi ke bajunya hingga tersisa beberapa tetes aja (ya iyalah, wong minyak itu
dah lama banget turun temurun sejak zamannya buyut muda, he2…). Selidih punya
selidik, hari ini dia mau berangkat bareng ma Amel naik angkutan umum ke
sekolah. Ari rela berjalan kaki sampai jalan raya
dengan wajah berseri-seri dan nggak terasa tuh capek di kaki. Tak kenal lelah,
seperti habis minum jamu kuat, semuanya
terasa semanis cokelat. Padahal, biasanya kemana-mana minta dianter Pak Bejo, supirnya.
Begitulah cinta, segalanya rela dikorbankan untuk si dia…(ciee…)
Sesampainya di jalan raya bertemulah Ari dan Amel, tapi
OMG (Oh My God…!) Ari malah segera berpaling muka dan meninggalkan Amel, Gadis
yang membuatnya berubah seratus tujuh puluh derajat
(lebaay…) dari sebelumnya. Pasalnya,
saat itu Ari melihat Amel yang sedang
menunggu angkutan tiba-tiba di sambar (upz, kayak petir aja…) maksudnya
Amel di hampiri Dino dan diboncengin dengan motor bebeknya.
Hancur-hancur…jantungku…sakit hatiku. Begitulah cinta, deritanya tiada
akhir…(Patt kay banget…)
Lain Ari lain Arif, ikhwan super idealis itu bener-bener
JAIM kalau sudah berbicara masalah cinta. Ia memang seorang yang terkenal mahir
di antara teman-temannya, sudah punya pekerjaan tetap, sudah hafal 6 juz dan
sudah cukup dewasa (Harus itu, kan udah 25 tahun…). Suatu hari terjadilah
perbincangan antara Arif dan Ali, teman di organisasi pemuda masjid.
“Eh, Rif menurutmu Hanin itu gimana? Maksudnya, apa kamu
ga ada rasa ama dia? Secara, dia tuh kan cantik, cerdas, sholihah. Laki-laki
mana coba yang ga mau jadi suaminya? ”
“Ah, biasa aja kali Li, dia itu kan teman akrab ku dari
kecil. Jadi…ya …biasa aja”
“So, kamu ga ada rasa ma dia? syukurlah, baguslah kalo gitu…(Ali berlalu sambil senyum-senyum sendiri)”
“”e…e…e…Li…tunggu, ya keburu kabur lagi tuh anak”.
Dua minggu sesudahnya Arif mendengar kabar bahwa Hanin
telah dikhitbah Ali. Airmata Arif menetes seusai tahajud malam itu.
“Ya Allah, mengapa tidak dari dulu aku menyatakan rasa
hatiku pada Hanin dan mengkhitbahnya…(nasi sudah menjadi lontong…eh salah
bubur…).”
Kalo
dah gini, semua jadi sepahit kopi pekat, habis cokelatnya tinggal belepotannya.
Bawaannya sebeel melulu, menangis semalam tak berairmata (ganggu orang tidur
aja…he2…).
***
The Power of Love
Cinta memang sesuatu yang luar biasa. Muara cinta adalah
sumber energy yang bisa merubah seseorang yang lemah menjadi kuat, mengubah
hidup menjadi indah, membuat gula jawa terasa cokelat (ce..ile…) tapi cinta
juga juga bisa membuat orang tak berdaya, patah semangat, dan dunia serasa
berguncang (huh, lebay…) saat harapan cinta tidak sesuai dengan realitas yang
ada.
Makanya hati-hati ketika akan memutuskan kepada siapa
kita akan memberikan cinta kita. Jangan sampai kita memberikan cinta kepada
orang yang tidak tepat (istri orang ditaksir…husz!, kurang ajar itu namanya…).
Satu lagi, JAIM boleh aja selama itu tidak berlebihan karena Allah juga
tidak menyukai orang yang lebay. Innallaha
laa yuhibbul musrifiin. Apalagi memendam cinta hanya karena JAIM yang
berlebihan. Kalau sudah siap lahir batin, ngapain nunggu? Ya nggak? Ga dosa kok
menyatakan cinta dan mengkhitbah wanita
yang
kita cintai selama alasan kita itu benar. Bukankah wanita itu dinikahi karena empat hal:
Hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan Agamanya. Dan spesial bagi laki-laki
yang menikahi seorang wanita karena kebaikan agamanya, maka itulah sebaik-baik
pilihan.
Cinta memang bukan benda yang dapat diraba. Betapapun
penyair mencoba mendefinisikan cinta, tak akan cukup berjuta puisi yang
tertulis untuk dapat mengungkap apa itu cinta. Bahkan banyak orang menyimpulkan
bahwa “cinta itu sesuatu yang abstrak, tapi nyata untuk dirasa”. Betapa dahsyatnya kekuatan cinta, hingga seorang Mujahid
rela mengorbankan jiwanya di jalan jihad fi sabilillah, Abu Bakar menahan rasa
sakit gigitan hewan beracun karena tidak ingin membangunkan Rasululloh SAW.
yang saat itu tidur dipangkuannya, seorang Khodijah merelakan harta kekayaanya
dipergunakan untuk jalan dakwah Rasululloh SAW.
Ya, kita tidak dapat menafikan akan kenyataan betapa
berpengaruhnya the Power of Love (kayak
lagunya Celine Dion aja…) terhadap diri seorang pencinta. Meski demikian, bukan
berarti cinta itu buta, kemudian diikuti cemburu buta apalagi dengan mengejar
cinta dengan membabi buta (loh, kok jadi bawa-bawa nama babi, haram tuh…he2…).
Kita tidak perlu mengikuti Romeo yang dengan dalih cinta sehidup semati lalu
ikut bunuh diri hanya gara-gara Juliet, pujaan hatinya telah meninggal dunia. Begitu
pula saat cinta kita tak terbalas, bukannya terus menempuh jalan sesat dengan
semboyan “cinta ditolak dukun bertindak” (hari gini, masih main dukun…so what
gitu loh! ). Seumpama cinta kita tidak terbalas, mungkin saja Allah akan
mempertemukan kita dengan orang yang lebih baik dan yang lebih
tepat untuk menjadi pendamping hidup
kita.
Mencintai dan
dicintai adalah fitrah manusia sebagai satu-satunya makhluk Allah yang
dikaruniai akal pikiran dan perasaan. Saat kita memutuskan untuk jatuh cinta
pada seseorang, kita selayaknya seorang peserta dalam sebuah kompetisi.
Kompetitor sejati harus sportif dalam menghadapi kompetisi yang diikutinya
karena sebuah kompetisi akan berujung pada dua kenyataan, yaitu menang atau
kalah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yag paling sempurna dan setiap
orang memiliki kelebihan masing-masing yang belum tentu dimiliki orang lain.
Jadi, bukan tidak mungkin kita mencintai seseorang dan orang lain juga
mencintai orang yang kita cinta. Oleh sebab itu, kita harus siap “bersaing”
secara sportif. Kalau toh orang yang
kita cintai tidak mencintai kita ataupun lebih memilih
orang lain, itu sudah resiko. So, tidak perlu kita patah hati, apalagi sampai
bunuh diri (udah gitu, masuk neraka lagi,hii…ngeri… mau???). Intinya terletak pada keberanian menghadapi kenyataan
baik itu pahit ataupun manis, kerelaan dan keikhlasan serta keyakinan bahwa
apapun yang Allah berikan kepada kita adalah yang terbaik. Allah lebih tahu apa
yang kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan. Dia lebih tahu mana yang
terbaik untuk hamba-Nya.
***
Ekspresikan
dirimu
dan Temukan Cintamu!
Ada yang bilang cinta itu seperti kentut (upsz…kok
langsung pada tutup hidung…?); ditahan bikin sakit perut, dikeluarkan bikin
semua kening yang di sekelilingnya berkerut. Lagian…siapa juga yang suruh
nahan, tapi bukan berarti kita bebas umbar di sembarang tempat. Segala sesuatu
ada tempat dan saatnya yang tepat. Bagi para pemuda yang terjangkit virus
cinta, usah resah usah curiga. Mendingan kita dengerin lagu yang satu ini. Check it out!
Kalo cinta sudah membara, aha…aha…
Rindu jadi
menggebu-gebu, uhu…uhu…
Huuh…dasar
obsesi jadi penyiar radio, udah…udah…suaramu tak sebagus Bang Jamal, justru
terlalu “MERDU” (MERusak DUnia!). Memang tak ada seorangpun yang bias melarikan
diri dari makhluk bernama cinta. Cinta sengaja diciptakan Allah SWT sebagai
suatu karunia. Oleh sebab itu cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah SWT,
Sang Maha Pencinta yang tak pernah terputus cinta-NYA. Setelah itu di urutan kedua disusul cinta
kepada Rosululloh SAW (hei…bukan saatnya siaran!). Adapun cinta di antara
manusia dan cinta kepada makhluk adalah hal yang sah-sah saja. Kita boleh saja
mencintai ibu kita, keluarga kita, sahabat kita, termasuk barang-barang
berharga yang kita miliki.
Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga).(QS.Ali Imron:14)
Dalam
ilmu psikologi ada sebagian orang yang tergolong introvert yang cenderung enggan untuk mengungkapkan secara
terang-terangan apa yang dia rasakan. Sebagian mereka lebih memilih untuk
memendam dalam-dalam apa yang ada di benak mereka, baik itu hal yang
menyedihkan maupun yang menyenangkan, termasuk juga cinta. Namun, berbeda
dengan orang yang ekspresif, mereka cenderung terbuka atas apa yang mereka
rasakan. Sangat sulit untuk memendam ketika ada hal yang ingin diungkapkan,
apalagi soal cinta.
Berkaitan dengan cinta, dalam Islam
tidak ada satupun larangan bagi umatnya untuk merasakan cinta apalagi untuk
menyempurnakannya dalam ikatan suci. Islam memiliki aturan sendiri untuk
bercinta. Kawula muda memang masih sangat labil, apalagi jika sudah bersentuhan
dengan kata yang satu ini. Untuk kasus yang satu ini (emangnya
pencurian…pembunuhan…) Islam menawarkan alternatif khusus bagi yang berjiwa
muda.
Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin (menikah), karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi, Bulughul Maram min Adilatil Ahkam, Kitab Nikah, hadits ke 1)
So,
nggak usah bĂȘte gitu donk kalo terkena virus merah jambu (baca: cinta). Kalo
memang kamu udah mampu dan siap untuk membina cinta, ya udah langsung tancap
gas aja, but jangan asal ngebut
ya…lihat rambu-rambunya. Tiap daerah ada adatnya masing-masing, jadi jangan
asal nyelonong kalo mau ngelamar anak orang. Bisa-bisa ditilang nanti.
Oke…oke…?
Nah, bagi kamu-kamu yang belum mampu
untuk menjemput mahligai bahagia dalam cinta yang sempurna, nggak usah terburu
nafsu (sabar dikit, Mas…Mbak…). Mendingan kamu maksimalkan aja dulu potensi dan
bakat kamu untuk berprestasi. Syukur-syukur bagi yang melengkapi masa
mempersiapkan dirinya dengan berpuasa akan lebih baik dan lebih terjaga.
***
Harus Cantik lah, smart lah,
sholihah lah, pinter masak lah, majalah, sekolah, jamilah….
Yang Sholih dong, tajir dong,
ganteng dong , ramah dong, kedondong, berondong….
Setiap orang pasti punya kriteria
sendiri-sendiri saat ditanya tentang kriteria calon pendamping hidupnya,
apalagi cowok gaul sekarang; “kalo gue
sich ga’ pake repot milih cewek .Buat gue, yang penting tinggi besar, semok,
putih, matanya tajam, pokoknya…sempurna”. Nggak sekalian aja tuh ditambah satu
kriteria lagi “…berekor” biar lengkap and
jadi deh nikah ma sapi tetangga di kampoeng.
Kita boleh kok menentukan standard
calon pendamping hidup kita, tapi kita juga harus tahu bahwa kesempurnaan hanya
milik Allah SWT. Selain itu, kita juga musti sadar diri dan introspeksi. Almuhsiniina lil muhsinaati…so, kalo
pengen punya soulmate dengan seabreg
kriteria, kamu juga musti berusaha menyeimbangkan diri kamu untuk bisa menjadi
seperti apa yang kamu standard kan
sebagai kriteria, are you ready?.
Woi, yang ngerasa laki-laki! Milih
calon istri jangan asal cantik doang. Carilah istri yang bisa kamu percaya
untuk jadi ibu yang bakalan mendidik anak-anak kamu kelak. Tentang katakter dan
kepribadian, selama itu masih dalam taraf yang wajar it’s ok lah, yang penting kamu harus berjiwa pemimpin, so, Nggak kayak kerbau yang dicocok
hidungnya. Eiit…,tapi juga jangan sewenang-wenang ya…kerjasama dan saling
melengkapi itu lebih baik untuk keharmonisan.
Buat kamu yang merasa cewek
nih…okelah bercita-cita pengen punya suami tampan, tajir, kaya (kaya? Kaya’ apa? Monyet, kucing,
buaya atau macan?), tapi ada beberapa hal yang musti kamu catat biar nggak
salah pilih pendamping hidup. Pertama, tuh orang musti tahu agama. Setidaknya
sholat lima waktu nggak bolong lah…syukur bisa ngaji bagus and luas pemahamannya
tentang ilmu agama Islam. coz dia tuh yang bakal jadi imam kamu kelak, nggak
cuma imam dalam artian sempit, tapi dialah yang akan memimpin keluarga agar
terbina sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Selanjutnya pilihlah
orang yang punya ketrampilan untuk mencari nafkah coz dialah yang jadi kepala
keluarga nantinya. Soal kaya atau miskin itu bisa fleksibel. Sebagai manusia
kita berusaha semaksimal mungkin dan dengan disertai berdo’a untuk mewujudkan
keinginan kita, selanjutnya serahkan sama Allah SWT.
Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaaq: 3)
Now,
what are you waiting for? Wake up and plan your future! Bagi
kamu-kamu yang dah pada siap, buruan…awas kehabisan…(huuh…emangnya diskonan di
swalayan…).
Menikah mengurangi dosa dan maksiat
Menikah
menyatukan bahagia dan nikmat
Rezeki
manusia Allah pengaturnya
Jangan
takut bila kau niat untuk menikah
Berbahagialah
manusia yang telah menemukan fithrahnya
Untuk
membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah
engkau segera bila saatnya telah tiba
Jangan
jadikan alasan untuk menunda
(Nasyid:
Ar-Royyan)
Bagi
yang belum siap and belum mampu,
sabar dulu ya… rajinin shaumnya :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar