Selasa, 30 Desember 2014

Rahasia Baris Cinta



"... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

Pagi itu begitu cerah. Jingga ufuk timur begitu indah dan gagah menyibak kebekuan yang tersisa dari dinginnya malam. Pancarannya yang kian detik kian terang menerobos rindang dedaunan, memaksa embun turun tahta dari singgahsana kehijauan. Riuh ricau nyanyian burung pagi merayuku untuk berdansa, melenggang berputar sambil tersenyum bak balerina di atas arena pertunjukkan panggung sandiwara dunia yang baru saja di mulai. Semakin ramai cicitan burung-burung tak juga mendamaikan hatiku dari gulana kalbu, justru hanya menakut-nakuti kelelawar yang berjubel masuk ke sarang rumah kosong tak berpenghuni. Entahlah…keelokan pagi ini tak mampu membendung gulanaku yang ku rasa sejak ku baca baris ayat cinta itu.
Bau amis ikan segar yang berhambur dari ember-ember penjual ikan yang berpapasan denganku justru membuat gerakan kakiku semakin gesit saja mengayuh sepeda hadiah ulang tahunku yang ke 14 dari kakek. Meski kali ini ku sendirian pergi ke pantai ku kayuh sepedaku lebih cepat dengan harapan aku akan segera melepas resah jiwa ini bersama hempasan ombak yang bergemuruh di pantai Kertosari, salah satu pantai yang masih cukup sepi di kecamatan Ulujami. Tak seperti biasanya saat aku dan Nabil bersepeda bersama ke pantai. Biasanya kami bermain bola bersama dengan teman-teman yang lain. Terkadang kami cuma berdua. Aku jadi teringat saat aku memetik senar-senar gitar kesayanganku kemudian Nabil mendendangkan lagu.
Persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Suaranya memang merdu. Dia tak hanya pandai bernyanyi, tapi juga pandai berorasi dan berpidato. Maklumlah, dia anak seorang usatdz di desaku. Tak heran jika beberapa kali dia menyabet juara satu berbagai lomba pidato yang diikutinya.
 Debur ombak kini sudah di depan mata. Segera kunikmati  suguhan pemandangan pantai yang mempesona. Terpekur sejenak mataku menatap kebiruan yang menyatukan samudera lepas dengan batas langit. Kalimat itu masih terngiang. Ada bisikan lembut selepas sholat shubuh tadi yang menuntun ku membuka shuhuf-shuhuf yang beberapa hari ini tak pernah ku baca. Berulang kali ku baca terjemahnya, ku coba renungi perkata, tapi maknanya belum dapat ku cerna juga. Herannya, suara aneh kini justru membentak-bentakku. Frekuensi gelombang suaranya yang hampir mendekati gelombang ultrasonik mengahantam-hantam pikiranku.
“ Malang sekali nasibmu, Fadhil! Apakah kau masih menganggap keadaanmu sekarang ini baik? Jujurlah pada hatimu! Apanya yang baik? Apa? Kau menunggu mukjizat dari Tuhan? Ha…ha…mana..mana? Sayang sekali, mungkin mukjizat itu telah lenyap bersama kepergian Ibumu yang sudah tak sayang lagi padamu atau mungkin juga sirna dengan menjauhnya sahabat yang kau banggakan itu. Ha...ha... ya, si Nabil itu! Apakah dia masih pantas kau banggakan  sebagai sahabat setia? Ha... ha...”
”Tidak....tidak....tidak....!” tiba-tiba lengkingan suaraku memecah kesepian pantai mencoba mengusir suara aneh itu
Aku mencoba menenangkan diri, berlari menghadang deburan ombak. Tak terasa aku berlari cukup jauh hingga ku merasakan basah sampai ke rambutku, tapi aku belum mau mati, aku masih belum siap bertemu Allah dengan segala dosaku. Akhirnya aku duduk di atas batu karang dan kembali terpekur, mencoba mencari jawaban dari gundah hatiku.
            Ibu memang pergi ke Arab Saudi dua tahun yang lalu sebagia TKW. Saat itu beliau memelukku. Masih terngiang kata-kata terakhir sebelum kepergiannya.
”Jadilah anak yang baik, nak. Rajin belajar ya...Ibu akan carikan uang yang banyak agar kau bisa sekolah setinggi yang kau mau”. isak tangis ibi mengiringi pesan terakhirnya
Apakah dengan begitu Ibu sudah tak sayang lagi padaku? Sementara hingga kini hampir setiap bulan Ibu mengirimkan uang untuk kebutuhanku dan Bulek Karti. Ya, Dialah yang merawat dan menjagaku semenjak Ibu pergi. Dia juga yang menanggung kebutuhanku dengan uang hasil penjualan sembako di warung kecilnya selama ibu belum bisa mengirimkan uang gajinya. Dia yang mengijinkan aku, Ibu dan almarhum Ayah untuk tinggal di rumahnya saat rumah kami hancur karena gempa di Klaten tiga tahun yang lalu. Ayahku meninggal setelah tiga bulan pindah ke kabupaten Pemalang ini. Saat itu Ayah memang tak menyetujui saat Ibu menyarankan untuk menumpang di rumah kakek di Semarang. Dari dulu nenek memang kurang suka pada Ayah karena nenek menganggap Ayah tidak pantas memepersunting Ibu. Ayahku hanya seoarang anak petani desa dan itulah yang membuat nenek menganggapnya katrok. Berbeda dengan kakek yang saat itu justru bersyukur karena mendapat menantu yang pintar ngaji dan banyak tahu tentang agama. Ayahku memang sempat menimba ilmu beberapa tahun di pondok pesantren  Al Huda yang cukup terkenal itu.
            Nabil, Lalu apa salah dia? Apakah aku harus membencinya hanya karena dia tak sempat berpamitan denganku sebelum keberangkatannya ke Pekalongan untuk melanjutkan sekolah di kota SANTRI itu? Nabil yang selama ini mengajarkan kepadaku hakikat teman sejati, bukan teman yang hadir hanya di saat aku merasakan kebahagiaan saja. Nabil yang selalu menghampiriku mengaji di rumah ustadz Masduki setiap Jum’at sore. Nabil yang selalu mau mendengarkan keluh kesahku saat aku ada masalah. Nabil yang... ah, tak cukup kata-kataku mengungkapkan kebaikan-kebaikan yang melekat padanya. Kami memang akrab sejak aku pindah ke desa ini. Apalagi di kelas tiga kami duduk sebangku. Dia anak yang cerdas. Meski saat itu kami adalah rival tapi kami tak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan kami sering berdiskusi pelajaran bersama hingga akhirnya aku dan dia sama-sama masuk dalam list siswa yang nilainya tertinggi paralel di SLTP Negeri 1 Ulujami. Dia memang langsung pergi sepulangnya dari berlibur di rumah pamannya di Bandung siang itu. Abinya mengantarkannya ke pondok pesantren Miftakhul ‘Ulum, satu-satunya pondok Muhammadiyah di Pekalongan, karena ada pemberitahuan dari pihak pondok agar santri baru harus berada di asrama lima hari sebelum kegiatan FORTASI di madarasah di mulai. Malam harinya Umminya datang ke rumah Bulek Karti dan menyampaikan sepucuk surat untukku. Ah, aku tak tahu kapan kita bisa bertemu lagi, bermain bola bersama, belajar bersama, bernyanyi bersama di atas batu karang...sudahlah, mungkin memang ini pilihanmu. Sedangkan aku, aku akan menuruti kata Bulek. Toh katanya nenek akan memilihkan sekolah yang favorit untukku. Meski dengan perasaan yang tak menentu ku buca amplop surat yang Nabil titipkan untukku.
            Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
            Maafkan aku, Fadhil. Aku harus pergi tanpa menemuimu dulu untuk sekedar berpamitan. Jam sebelas tadi aku baru pulang dari rumah pamanku di Bandung dan habis dhuhur Abi akan mengantarkanku ke Sekolah baruku. Abi menyuruhku melanjutkan studiku di pon-pes Miftakhul ”ulum Pekalongan.
”Sahabat itu seperti puzzle. Tiap potongannya punya tempat tersendiri dan tidak bisa digantikan oleh orang lain. Walau ia tidak di sisi tapi selalu ada tempat untuknya”.

Tetep istiqomah ya...
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

                                                            Yang akan selau menjadi sahabatmu,
 insya Allah sampai di syurga nanti

Nabil

* * *
           
“Kemana saja kau, Ndung? Matahari sudah panas gini kok baru pulang?dari tadi Bulek mondar mandir nyariin kamu” tanya Bulek cemas.
“Fadhil dari segoro, Bulek. Cuma pengen menikmati suasana segoro pagi hari sebelum Fadhil berangkat ke Semarang” jawabku sederhana.
“Ya sudah, sekarang kamu mandi, siapkan baju dan apa-apa yang perlu kamu bawa ke Semarang. Jangan khawatir, Ndung. Meski nenekmu itu kurang suka dengan almarhum Ayahmu, tapi dia sebenarnya menyayangimu, bahkan dia sendiri yang mengirim surat pada Ibumu dan meminta agar  kamu tinggal dan melanjutkan sekolahmu di Semarang. Nanti Bulek sendiri yang akan mengantarkanmu ke Semarang ” nasehat Bulek, mencoba meyakinkanku .
“Ya, Bulek.”  aku mengangguk.
Pukul 10.30 aku berangkat dari rumah. Perjalanan yang cukup melelahkan dan memakan waktu yang cukup lama. Dari Kertosari aku harus menyetop daihatsu kuning kemudian turun di pasar Comal. Setelah sampai di pangkalan bus kami segera memilih bus jurusan Comal-Pekalongan. Bus terus melaju, sampailah aku di terminal pekalongan. Jam yang tepasang di salah satu tiang penyangga atap pangkalan bus menunjukkan pukul 12.00. Aku melepaskan pandanganku ke sekeliling terminal.
”Kau mau rokok? Ayolah...coba-coba dulu tak apa-apa. Kata Bang Jupri kalau      laki-laki tidak merokok itu nggak bakalan bisa jadi preman terminal.”  bujuk
seorang anak sebayaku bertato di tangan sebelah kanan kepada laki-laki yang sepertinya baru berumur 9 atau 10 tahun.
”Nggak, ah. Bau asapnya aja sudah bikin aku batuk-batuk apalagi menghisapnya. Aku juga tak mau jadi preman di terminal ini. Aku cuma pendatang baru yang ingin ikut mencari uang dengan kentrungku ini” Jawab bocah kecil itu.
“Ayolah...hitung-hitung menikmati kesenangan dunia. Toh hidup di tempat kayak gini tak menjanjikan kesenangan yang pasti buat orang-orang kayak aku dan kamu ini. Iya, kan? Ayo coba, sedikit saja... yang ini pasti bakal bikin kamu kaetagihan” bujuknya lagi.
“ehm...baiklah tapi kalau aku sampai terbatuk-batuk kamu jangan sekali-kali nawarin aku rokok lagi ya?” bocah itu akhirnya luluh juga.
“siiip lah!” jawab si anak bertato itu.
            Aku benar-benar terkesima dengan adegan artis di panggung sandiwara hidup di tempat dimana orang-orang jarang berani memiliki mimpi karena mereka takut terjatuh jika berangan-angan terlalu tinggi. Sekejap aku ingat Nabil.
“Kalau saja Nabil sahabatku itu anak yang bandel, apa jadinya aku sekarang?kan kata ustadz kalau kita mau tahu tentang seseorang bisa melihat dengan siapa dia bergaul” bisikku dalam hati.
Bulek menepuk bahuku dan aku segera tersadar dari renungku. Bulek mengajakku untuk sholat dulu di musholla terminal karena perjalanan ke Semarang masih sekitar tiga setengah jam lagi.
”sekalian dijama’ dengan sholat ashar ya, Ndung. Nanti setelah kita makmum sholat dhuhur sama imam yang di depan itu kita kerjakan sholat ashar. Takutnya nanti kesorean sampai di tempat nenekmu” kata Bulek sambil menunjuk laki-laki yang sudah mulai takbir di depan shof-shof .
”Baik, Bulek.” jawabku singkat. Untunglah aku dulu pernah dapat materi tentang menggabung dua sholat dalam satu waktu dari ustadz Masduki.
Setelah salam sebelum aku mengerjakan sholat ashar sempat ku pandangi sosok yang menjadi imam sholat tadi. Laki-laki itu nampak sudah cukup tua, benang-benang putih bermunculan dari kulit kepalanya. Pakaiannya tampak rapi meski kerutan di baju lengan pendeknya masih menandakan bahwa bajunya tidak disterika. Ada cahaya bening yang ku tangkap dari raut wajahnya yang juga sudah berkerut di bagian bawah mata.
            ”eh...kok malah ngalamun, ayo sekalian sholat ashar!” tepukan Bulek di bahuku Bulek mengagetkanku.
            Pemandangan yang lebih mengejutkan kembali ku saksikan di terminal Pekalongan. Setelah aku duduk manis di kursi sebelah Bulek ku lihat Pak sopir membuka pintu depan bus yang ku naiki dan menempatkan diri setelah melihat hampir seluruh kursi telah penuh dengan penumpang. Subhanallah...Pak sopir itu ternyata orang yang tadi menjadi imam sholat dhuhur di mushola. Kesejukan yang terpancar dari wajahnya masih ku lihat. Bedanya hanya sekarang dia mengenakan baju dinasnya; celana panjang, kaos pendek dan handuk kecil yang dikalungkan dilehernya. Mungkin inilah yang ustadz bilang sebagai Guru besar di universitas kehidupan. Dia mengajar kita bukan di kelas ber AC maupun dengan membawa komputer jinjing di tangannya, tapi mengajar kita dengan akhlak.
* * *

            Empat hari sudah aku terbaring di rumah sakit Roemani. Dari percakapan kakek dan  dokter yang baru saja memeriksaku aku tahu bahwa terkena gejala radang tenggorokan dan maagh. Kakekku yang baru pulang setelah tiga minggu ke luar kota untuk mengurus bisnisnya sempat kaget waktu nenek mengabarinya bahwa aku sakit keras. Mungkin kakek kaget mengapa aku yang baru beberapa hari tinggal di rumahnya bisa tiba-tiba sakit dan sampai harus dibawa ke rumah sakit. Memang, meski baru seminggu ku pijakkan kaki di kota ATLAS ini tapi rasanya aku sudah tidak betah. Yang jelas bukan karena fasilitas yang nenek berikan padaku kurang memadai karena nenek memperlakukan aku sebagai cucu istimewanya. Maklumlah, aku satu-satunya cucu laki-laki dari kakek dan nenek karena dari ketiga anak mereka Ibuku lah yan melahirkan anak laki-laki. Bulek Karti tidak mempunyai anak, sejak suaminya meninggal ia memutuskan untuk tidak menikah lagi. Sedangkan Budhe Marti, ketiga anaknya perempuan semua dan di juga tinggal di luar Jawa bersama suaminya dan cuma setahun sekali sowan ke rumah kakek dan nenek. Entahlah, mungkin karena aku belum bisa beradaptasi dengan kondisi dan suasana perkotaan. Bayangkan saja, di rumah sebesar tiga kali rumah Bulek di Pemalang cuma dihuni aku, kakek, nenek, mbok Yem dan satu kamar cukup besar di dekat gerbang untuk tempat istirahat pak satpam dan pak supir. Aku sering merasa sepi di sini meskipun aku bisa nonton TV, main PS, ataupun mendengarkan musik dari DVD player . Bagaimana aku bisa betah, aku yang di desa sering bermain bersama teman-teman sepulang sekolah dan mengikuti kegiatan mengaji tiap Jum’at sore sekarang lebih sering di dalam rumah. Suasana di kota memang kental dengan individualisme. Nenekku saja yang sudah lama tinggal di perumahan ini tidak kenal dengan satupun anak tetangga yang berusia sebayaku. Semua itu mungkin dikarenakan tingkat interaksi sosial dengan frekuensi sangat rendah sehingga tak heran jika nama tetangga yang satu RT saja masih banyak yang tidak tahu. Tidak seperti di desaku yang memilki banyak kegiatan yang memungkinkan masyarakatnya untuk saling mengenal satu sama lain, di perumahan tempat nenek tinggal hanya ada kegitan rutinan arisan tiap satu bulan sekali. Sedangkan di desaku, hampir semua nama tetangga baik satu RT maupun RW mungkin Bulekku kenal. Tapi...ada satu lagi yang membuatku lebih shock. Bagaimana tidak...hari itu hari pertamaku masuk ke sekolahku yang baru, yang katanya sekolah favorit pilihan nenek.
            ”Pak Bejo, ini benar sekolah Fadhil yang baru?” aku hampir tak percaya waktu Pak Bejo, supir pribadi kami menghentikan mobil di depan sebuah sekolah yang di sebelah pintu gerbangya bertuliskan LOYOLA School.
            ”Benar, Den. Kata juragan putri inilah sekolah favorit yang beliau janjikan ke Den Fadhil” jawabnya lugu.
            Aku segera turun setelah Pak Bejo meebukakan pintu mobil untukku. Ku rapikan kembali baju dan ku gendong tas punggungku. Gedung yang nampak megah meskipun baru diamati dari luarnya membuatku berprediksi tentang fasilitas di dalamnya. Namanya juga orang desa. Di sekolahku sebelumya tak ada fasilitas kelas full AC Apalagi gedung bertingkat, tapi bukan berarti sekolahku adalah sekolah yang ecek-ecek. Sekolahku yang dulu merupakan sekolah Negeri terfavorit di Ulujami, sekolah dengan bangunan tak bertingkat, meski demikian dibangun di atas tanah yang cukup luas. Selain itu sekolahku selalu menunjukkan keunggulan mutunya dengan meraih peringkat nilai UN dan kelulusan tertinggi dibandingkan dengan sekolah Negeri maupun swasta lain.
            Semakin terkejut aku saat ku tatap sekelilingku. Ratusan siswa-siswi berlalu lalang. Bukan gaya mereka yang fashioanable dan stylish  yang membuatku terheran-heran dengan apa yang ku saksikan kali ini, melainkan berjubel tanya di hatiku yang ingin segera ku sampaikan pada nenek. Sekelompok anak perempuan yang baru saja melintas di depanku memang cantik-cantik, aku mengatakan demikian karena aku laki-laki normal yang juga bisa tergoda dengan keanggunan dan kecantikan perempuan. Kulit putih mereka dipadu dengan rambut lurus yang nampaknya alami, tidak seperti temanku Santini yang rambutnya terlihat agak kering dan rusak akibat direbonding. Ditambah lagi mata sipit yang membuat mereka semaikin terlihat mempesona saja di hadapan kaum adam. Siswa laki-laki yang berlalu lalang juga tak kalah necisnya. Mereka mempunyai warna kulit dan mata sipit yang sama seperti mata-mata sipit yang gadis-gadis ayu baru saja sempat ku amati. Tapi satu hal yang memunculkan tanda tanya besar, kalung itu. Ya kalung-kalung dengan liontin salib yang menggantung di leher mereka. Aku dapat melihatnya dengan jelas karena mereka dengan PD-nya mengeluarkannya dari baju seragam mereka sehingga tampak jelas di bawah kerah baju seragam yang mereka pakai.
Aku merasa seperti orang asing, berbeda dengan mereka yang mungkin tak meresa asing padaku karena penampilan fisikku juga tak jauh beda dengan mereka. Dari garis bapak aku memang memiliki darah keturunan china. Baik mbah kakung maupun anak-anaknya  memang berkulit putih dan bermata sipit, hanya saja Ayahku yang terlihat berbeda karena matanya saja yang sipit sedangkan warna kulitnya lebih mirip dengan mbah putri yang orang Jawa Asli. Dulu mbah kakung adalah anak dari seorang muallaf dari marga Chung Hwa kemudian berganti nama menjadi Muhammad Abdurrahman dan nama Ayahku sendiri adalah Sidrotul Kirom. Tiba-tiba  Jantungku berdetak semakin kencang. Inikah sekolah favorit pilihan nenek?
Sosok berbaju putih dengan stetoskop yang menggantung di bajunya itupun meninggalkan aku dan kakek di ruang VVIP kemudian  nenek datang dengan membawa sekeranjang buah dan meletakkannya di meja.
Perlahan ku coba sandarkan punggungku ke dinding di belakangku.
            ” Fadhil, jangan banyak bergerak dulu. Kamu masih perlu banyak istirahat!” sergah nenek saat aku berhasil menyandarkan punggungku yang terasa kaku karena sudah beberapa hari ini cuma untuk berbaring. Aku cuma tersenyum dan meyakinkan dengan isyarat bahwa aku baik-baik saja. Sekilas ku memperhatikan wajah kakek. Aku menangkap ada sesuatu yang aneh, seperti yang pernah ku lihat saat kakek marah kepada anak yang memukulku dengan batu waktu kekek mengunjungiku di Klaten sewaktu ku masih berumur tujuh tahun dulu.
” Bu, apa benar yang dikatakan Bejo bahwa Ibu memasukkan Fadhil ke sekolah LOYOLA?” tanya kakek dengan nada dingin.
”iya, benar. Itu kan sekolah swasta favorit di Semarang. Lha wong Jeng Lim dan Jeng Ranta juga bilang seperti itu” jawab nenek dengan santai.
”Ibu sadar ambil keputusan itu? Ibu tahu kan siapa mereka? heeh..pantas saja kalau mereka bilang seperti itu. Ibu nggak lihat kalau tiap ahad pagi mereka bawa alkitab dan rajin mengunjungi gereja?” suara kakek meninggi, sepertinya ada api kemarahan di hatinya.
”Apa iya sih , Pak? Tapi...tapi Ibu tidak tahu. Ibu kenal mereka lewat arisan bulanan. Toh wajah Jeng Ratna juga nggak berbau china sedikitpun jadi Ibu pikir mereka berkata seperti itu bukan karena...”
”pokoknya aku tidak setuju! Fadhil, cucu kesayanganku bersekolah di sekolah itu, titik! ” potong kakek yang seketika itu membuat mata nenek memerah. Aku yakin sebentar lagi ada bulir bening yang akan menghujani pipinya.
            Aku hanya bisa terdiam karena tenggorokanku masih sakit dan kalaupun aku berbicara, mereka tak akan mendengar dengan jelas apa yang aku katakan karena suaraku serak hilang entah kemana, mungkin tertahan oleh kekecewaanku yang diakui atau tidak menjadi salah satu beban pikiran hingga aku terbaring di ruang bercat serba putih ini.

* * *
            Pagi itu aku sudah merasa lebih baik setelah tiga hari yang lalu dokter mengijinjkan aku pulang dari rumah sakit Roemani. Mbok Yem masuk ke kamarku sambil membawakan segelas susu dan sepiring kue di nampan lalu meletakkannya di meja sebelah ranjangku.
Den, tadi kakek meminta Den Fadhil untuk sarapan bersama di ruang makan kalau hari ini Den Fadhil sudah tidak lemes lagi”. Kata mbok Yem sebelum meninggalkan kamarku.
”Alhamdulillah, Mbok. Fadhil sudah merasa lebih seger hari ini. Sampaikan pada kakek dan nenek sebentar lagi Fadhil ke ruang makan” kataku sambil menyisir rambut berpotongan gaya mandarinku yang masih basah karena habis keramas.
            ”baik, Den
            Aku segera melangkah menuju ruang makan setelah meminum segelas susu hangat buatan mbok Yem. Rupanya Kakek dan nenek sudah menunggu. Sepertinya kakek ingin menyampaikan sesuatu. Aku mencoba menepis rasa penasaran itu dan menyapa mereka. Mereka pun tersenyum padaku dan aku menangkap kegembiraan di mata kakek dan nenek. Aku ikut senang karena mereka akhirnya bisa kembali terlihat mesra lagi setelah dua hari selepas kemarahan kakek di ruang VVIP waktu itu. Kami  menikmati sarapan pagi hari ini dengan hati bahagia. Setelah selesai makan kakek membuka pembicaraan.
            ”bagaimana keadaanmu sekarang, Fadhil?” tanya kakek.
            ”Alhamdulillah, kek. Fadhil sudah merasa kembali sehat seperti semula”
”syukurlah, kakek merasa senang mendengarnya. Ehm...kakek sudah mengurus surat pindah sekolah untukmu dan kakek ingin tahu apakah kamu sudah punya pilihan dimana kamu ingin melanjutkan studimu”.
”Ha! Apa aku nggak salah dengar? kakek memperbolehkanku memilih sekolah lanjutan sesuai dengan keinginanku?” bisikku dalam hati.
 Sejenak pikiran ku langsung tertuju pada Nabil. Oh, seandainya saja dia tahu bahwa aku akan pindah ke sekolah yang sama dengannya. Ups...bukan sekolah, tapi di madrasah dan tinggal di asrama pondok pesantren.
”kok diam saja? dijawab tho” aku tersadar dari lamunanku.
”Miftakhul ’Ulum!” seruku karena terkaget.
”ehm...ya, kek Fadhil ingin pindah ke Pondok pesantren Miftakhul ’Ulum. kebetulan teman baik Fadhil juga mondok di sana”
”bagus itu! Kakek setuju. Dimana alamatnya?” sambut kakek merespon usulku.
”Pekalongan” jawabku singkat.
Ku lihat sekilas kakek menatap nenek sepertinya ingin meminta persetujuan nenek karena dengan Fadhil melanjutkan sekolah di Pekalongan berarti meraka harus berpisah jarak dan akan jarang bertemu lagi dengan cucu kesayangan mereka. Nenekpun tersenyun dan mengangguk. Sepertinya aku menangkap ketulusan dari anggukan nenek meski ku tahu pada awalnya nenek pasti merasa berat, mungkin karena dia merasa bersalah sempat memilihkan sekolah yang katanya favorit untukku.
            ”Baiklah, Fadhil. Kakek akan mendaftarkanmu ke sana” lega rasanya, bagaikan ada angin sepoi membelai tubuh yang sempat kegerahan.
”ehm...tapi, kek. Kayaknya kegiatan perkenalan di madrasahnya sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Apa aku masih bisa diterima disana?” tiba-tiba ada kekehawatiran dalam benakku.
”oh, masalah itu...kamu tenang saja, toh kamu pindah bukan karena terlibat ”kasus”, nilaimu juga sangat baik. Jadi...kamu jangan khawatir, untuk yang satu ini serahkan sama kakek” Kakek memang jempolan kalau untuk mengurus hal-hal yang seperti ini, dia pintar sekali dalam hal lobi karena keyakinan dia, selama dia berada dalam kebenaran kenapa harus takut.
”oya, kemarin ada surat dari Ibumu untukmu, coba kau baca sekarang”. Ujar kakek seraya mengulurkan amplop berwarna biru muda padaku.
Apa? surat? Jarang sekali Ibu menulis surat. Biasanya Ibu menelponku sebulan sekali lewat telpon rumah tetangga sebelah rumah Bulek. Dengan perlahan ku buka surat itu.
           

Assalaamu’alaikum, Ananda sayang...
Apa kabarmu, nak? Ibu do’akan semoga kau selalu dalam lindungan Allah Sang Maha memberi hidayah. Ibu juga berdo’a semoga kau semakin rajin ibadah, jadi bukan hanya nilai sekolahmu saja yang semakin baik tapi derajatmu di sisi Allah juga mulia.
Bulan depan kontrak Ibu bekerja sudah habis dan Ibu memutuskan untuk pulang. Ibu berjanji tidak akan meninggalkanmu ke tempat yang jauh lagi. Uang dari gaji Ibu insya Allah sudah cukup untuk modal usaha di kampung halaman dan insya Allah cukup untuk biaya sekolahmu hingga kau kuliyah nanti.
Alhamdulillah, majikan  Ibu adalah yang sangat baik. Selain dia mengajarkan banyak hal tentang agama Islam dia juga mengijinkan Ibu untuk mengikuti kursus seminggu sekali.
Rasanya Ibu sudah tak sabar lagi ingin bertemu denganmu, nak. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua. Amien.
                                         
Yang selalu menyayangimu                                                                                                                       Ibu

            Tak terasa bulir-bulir bening telah membasahi pipiku dan menetes dikertas berwarna biru muda kesukaanku. Saat ku tengok amplop surat itu ternya masih ada beberapa lembar foto di dalamnya. Subhanallah...hampir saja aku pangling melihat foto Ibuku sendiri. Dia terlihat lebih anggun dengan jilbab yang dikenakan di semua foto itu. Di sebelahnya juga perempuan yang juga berjilbab. Baru kali ini aku melihat Ibu berfoto dengan memakai jilbab. Biasanya aku meliaht Ibu berjilbab hanya ketika mau mengikuti pengajian mingguan atau takziyah. Aku teringat sesuatu, jelas dan semakin jelas, baris cinta yang ku hafal dan sepertinya kali ini baru ku temukan rahasia-Nya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

            Terima kasih, ya Allah.Ada kesejukan mengaliri relung hati yang telah lama memendam gundah. Ada kedamaian yang menggantikan ruang-ruang sepi dan keresahan jiwa. Inikah rahasia dari baris ayat cinta yang ku baca dan sempat mengundang sejuta tanya di jiwa? Inikah makna dari cobaan selama ini ku rasa? Subhanallah...Pemilik sekenario kehidupan yang tak pernah linear. Ada perpisahan, ada pertemuan. Ada kesedihan, ada kebahagiaan. Shodaqallah...yang tak pernah menyalahi janji-Nya.  Inginku segera bersujud syukur pada-Mu, ya Rabby...Engkau telah mengajarkanku makna kehidupan dengan cara yang sangat indah, meski terkadang meneteskan airmata seorang hamba yang lemah ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar