Pagi itu begitu cerah. Jingga ufuk timur begitu indah
dan gagah menyibak kebekuan yang tersisa dari dinginnya malam. Pancarannya yang
kian detik kian terang menerobos rindang dedaunan, memaksa embun turun tahta
dari singgahsana kehijauan. Riuh ricau nyanyian burung pagi merayuku untuk
berdansa, melenggang berputar sambil tersenyum bak balerina di atas arena
pertunjukkan panggung sandiwara dunia yang baru saja di mulai. Semakin ramai
cicitan burung-burung tak juga mendamaikan hatiku dari gulana kalbu, justru
hanya menakut-nakuti kelelawar yang berjubel masuk ke sarang rumah kosong tak
berpenghuni. Entahlah…keelokan pagi ini tak mampu membendung gulanaku yang ku
rasa sejak ku baca baris ayat cinta itu.
Bau amis ikan segar yang berhambur dari ember-ember
penjual ikan yang berpapasan denganku justru membuat gerakan kakiku semakin gesit
saja mengayuh sepeda hadiah ulang tahunku yang ke 14 dari kakek. Meski kali ini
ku sendirian pergi ke pantai ku kayuh sepedaku lebih cepat dengan harapan aku
akan segera melepas resah jiwa ini bersama hempasan ombak yang bergemuruh di
pantai Kertosari, salah satu pantai yang masih cukup sepi di kecamatan Ulujami.
Tak seperti biasanya saat aku dan Nabil bersepeda bersama ke pantai. Biasanya
kami bermain bola bersama dengan teman-teman yang lain. Terkadang kami cuma
berdua. Aku jadi teringat saat aku memetik senar-senar gitar kesayanganku
kemudian Nabil mendendangkan lagu.
Persahabatan bagai
kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Suaranya memang merdu. Dia tak hanya pandai bernyanyi, tapi juga
pandai berorasi dan berpidato. Maklumlah, dia anak seorang usatdz di desaku.
Tak heran jika beberapa kali dia menyabet juara satu berbagai lomba pidato yang
diikutinya.
Debur ombak kini sudah di depan mata. Segera kunikmati suguhan pemandangan pantai yang mempesona.
Terpekur sejenak mataku menatap kebiruan yang menyatukan samudera lepas dengan
batas langit. Kalimat itu masih terngiang. Ada bisikan lembut selepas sholat
shubuh tadi yang menuntun ku membuka shuhuf-shuhuf yang beberapa hari ini tak
pernah ku baca. Berulang kali ku baca terjemahnya, ku coba renungi perkata,
tapi maknanya belum dapat ku cerna juga. Herannya, suara aneh kini justru
membentak-bentakku. Frekuensi gelombang suaranya yang hampir mendekati
gelombang ultrasonik mengahantam-hantam pikiranku.
“ Malang sekali nasibmu,
Fadhil! Apakah kau masih menganggap keadaanmu sekarang ini baik? Jujurlah pada
hatimu! Apanya yang baik? Apa? Kau menunggu mukjizat dari Tuhan? Ha…ha…mana..mana?
Sayang sekali, mungkin mukjizat itu telah lenyap bersama kepergian Ibumu yang
sudah tak sayang lagi padamu atau mungkin juga sirna dengan menjauhnya sahabat
yang kau banggakan itu. Ha...ha... ya, si Nabil itu! Apakah dia masih pantas
kau banggakan sebagai sahabat setia?
Ha... ha...”
”Tidak....tidak....tidak....!”
tiba-tiba lengkingan suaraku memecah kesepian pantai mencoba mengusir suara
aneh itu
Aku mencoba menenangkan diri,
berlari menghadang deburan ombak. Tak terasa aku berlari cukup jauh hingga ku
merasakan basah sampai ke rambutku, tapi aku belum mau mati, aku masih belum
siap bertemu Allah dengan segala dosaku. Akhirnya aku duduk di atas batu karang
dan kembali terpekur, mencoba mencari jawaban dari gundah hatiku.
Ibu
memang pergi ke Arab Saudi dua tahun yang lalu sebagia TKW. Saat itu beliau
memelukku. Masih terngiang kata-kata terakhir sebelum kepergiannya.
”Jadilah anak yang baik, nak.
Rajin belajar ya...Ibu akan carikan uang yang banyak agar kau bisa sekolah
setinggi yang kau mau”. isak tangis ibi mengiringi pesan terakhirnya
Apakah dengan begitu Ibu sudah tak sayang lagi
padaku? Sementara hingga kini hampir setiap bulan Ibu mengirimkan uang untuk
kebutuhanku dan Bulek Karti. Ya, Dialah yang merawat dan menjagaku semenjak Ibu
pergi. Dia juga yang menanggung kebutuhanku dengan uang hasil penjualan sembako
di warung kecilnya selama ibu belum bisa mengirimkan uang gajinya. Dia yang
mengijinkan aku, Ibu dan almarhum Ayah untuk tinggal di rumahnya saat rumah
kami hancur karena gempa di Klaten tiga tahun yang lalu. Ayahku meninggal
setelah tiga bulan pindah ke kabupaten Pemalang ini. Saat itu Ayah memang tak
menyetujui saat Ibu menyarankan untuk menumpang di rumah kakek di Semarang.
Dari dulu nenek memang kurang suka pada Ayah karena nenek menganggap Ayah tidak
pantas memepersunting Ibu. Ayahku hanya seoarang anak petani desa dan itulah
yang membuat nenek menganggapnya katrok. Berbeda
dengan kakek yang saat itu justru bersyukur karena mendapat menantu yang pintar
ngaji dan banyak tahu tentang agama. Ayahku memang sempat menimba ilmu beberapa
tahun di pondok pesantren Al Huda yang
cukup terkenal itu.
Nabil, Lalu apa salah dia? Apakah
aku harus membencinya hanya karena dia tak sempat berpamitan denganku sebelum
keberangkatannya ke Pekalongan untuk melanjutkan sekolah di kota SANTRI itu?
Nabil yang selama ini mengajarkan kepadaku hakikat teman sejati, bukan teman
yang hadir hanya di saat aku merasakan kebahagiaan saja. Nabil yang selalu
menghampiriku mengaji di rumah ustadz Masduki setiap Jum’at sore. Nabil yang
selalu mau mendengarkan keluh kesahku saat aku ada masalah. Nabil yang... ah,
tak cukup kata-kataku mengungkapkan kebaikan-kebaikan yang melekat padanya.
Kami memang akrab sejak aku pindah ke desa ini. Apalagi di kelas tiga kami
duduk sebangku. Dia anak yang cerdas. Meski saat itu kami adalah rival tapi
kami tak pernah mempermasalahkan hal itu. Bahkan kami sering berdiskusi
pelajaran bersama hingga akhirnya aku dan dia sama-sama masuk dalam list siswa yang nilainya tertinggi
paralel di SLTP Negeri 1 Ulujami. Dia memang langsung pergi sepulangnya dari
berlibur di rumah pamannya di Bandung siang itu. Abinya mengantarkannya ke
pondok pesantren Miftakhul ‘Ulum, satu-satunya pondok Muhammadiyah di
Pekalongan, karena ada pemberitahuan dari pihak pondok agar santri baru harus
berada di asrama lima hari sebelum kegiatan FORTASI di madarasah di mulai. Malam harinya Umminya datang ke rumah
Bulek Karti dan menyampaikan sepucuk surat untukku. Ah, aku tak tahu kapan kita
bisa bertemu lagi, bermain bola bersama, belajar bersama, bernyanyi bersama di
atas batu karang...sudahlah, mungkin memang ini pilihanmu. Sedangkan aku, aku
akan menuruti kata Bulek. Toh katanya nenek akan memilihkan sekolah yang
favorit untukku. Meski dengan perasaan yang tak menentu ku buca amplop surat
yang Nabil titipkan untukku.
Assalaamu’alaikum Wr. Wb.
Maafkan aku, Fadhil. Aku
harus pergi tanpa menemuimu dulu untuk sekedar berpamitan. Jam sebelas tadi aku
baru pulang dari rumah pamanku di Bandung dan habis dhuhur Abi akan
mengantarkanku ke Sekolah baruku. Abi menyuruhku melanjutkan studiku di pon-pes
Miftakhul ”ulum Pekalongan.
”Sahabat itu seperti puzzle. Tiap potongannya punya tempat tersendiri dan
tidak bisa digantikan oleh orang lain. Walau ia tidak di sisi tapi
selalu ada tempat untuknya”.
Tetep istiqomah ya...
Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
Yang
akan selau menjadi sahabatmu,
insya
Allah sampai di syurga nanti
Nabil
* * *
“Kemana saja kau, Ndung? Matahari sudah panas gini kok
baru pulang?dari tadi Bulek mondar mandir nyariin kamu” tanya Bulek cemas.
“Fadhil dari segoro, Bulek. Cuma pengen menikmati
suasana segoro pagi hari sebelum Fadhil
berangkat ke Semarang” jawabku sederhana.
“Ya sudah, sekarang kamu
mandi, siapkan baju dan apa-apa yang perlu kamu bawa ke Semarang. Jangan
khawatir, Ndung. Meski nenekmu itu
kurang suka dengan almarhum Ayahmu, tapi dia sebenarnya menyayangimu, bahkan
dia sendiri yang mengirim surat pada Ibumu dan meminta agar kamu tinggal dan melanjutkan sekolahmu di
Semarang. Nanti Bulek sendiri yang akan mengantarkanmu ke Semarang ” nasehat Bulek,
mencoba meyakinkanku .
“Ya, Bulek.” aku mengangguk.
Pukul 10.30 aku berangkat dari
rumah. Perjalanan yang cukup melelahkan dan memakan waktu yang cukup lama. Dari
Kertosari aku harus menyetop daihatsu kuning kemudian turun di pasar Comal.
Setelah sampai di pangkalan bus kami segera memilih bus jurusan
Comal-Pekalongan. Bus terus melaju, sampailah aku di terminal pekalongan. Jam yang
tepasang di salah satu tiang penyangga atap pangkalan bus menunjukkan pukul
12.00. Aku melepaskan pandanganku ke sekeliling terminal.
”Kau mau rokok?
Ayolah...coba-coba dulu tak apa-apa. Kata Bang Jupri kalau laki-laki tidak merokok itu nggak bakalan
bisa jadi preman terminal.” bujuk
seorang anak sebayaku bertato di tangan sebelah
kanan kepada laki-laki yang sepertinya baru berumur 9 atau 10 tahun.
”Nggak, ah. Bau asapnya aja
sudah bikin aku batuk-batuk apalagi menghisapnya. Aku juga tak mau jadi preman
di terminal ini. Aku cuma pendatang baru yang ingin ikut mencari uang dengan kentrungku ini” Jawab bocah kecil itu.
“Ayolah...hitung-hitung
menikmati kesenangan dunia. Toh hidup di tempat kayak gini tak menjanjikan
kesenangan yang pasti buat orang-orang kayak aku dan kamu ini. Iya, kan? Ayo
coba, sedikit saja... yang ini pasti bakal bikin kamu kaetagihan” bujuknya
lagi.
“ehm...baiklah tapi kalau aku
sampai terbatuk-batuk kamu jangan sekali-kali nawarin aku rokok lagi ya?” bocah
itu akhirnya luluh juga.
“siiip lah!” jawab si anak
bertato itu.
Aku
benar-benar terkesima dengan adegan artis di panggung sandiwara hidup di tempat
dimana orang-orang jarang berani memiliki mimpi karena mereka takut terjatuh
jika berangan-angan terlalu tinggi. Sekejap aku ingat Nabil.
“Kalau saja Nabil sahabatku
itu anak yang bandel, apa jadinya aku sekarang?kan kata ustadz kalau kita mau
tahu tentang seseorang bisa melihat dengan siapa dia bergaul” bisikku dalam
hati.
Bulek menepuk bahuku dan aku segera tersadar dari
renungku. Bulek mengajakku
untuk sholat dulu di musholla terminal karena perjalanan ke Semarang masih
sekitar tiga setengah jam lagi.
”sekalian dijama’ dengan
sholat ashar ya, Ndung. Nanti setelah
kita makmum sholat dhuhur sama imam yang di depan itu kita kerjakan sholat
ashar. Takutnya nanti kesorean sampai di tempat nenekmu” kata Bulek sambil
menunjuk laki-laki yang sudah mulai takbir di depan shof-shof .
”Baik, Bulek.” jawabku
singkat. Untunglah aku dulu pernah dapat materi tentang menggabung dua sholat
dalam satu waktu dari ustadz Masduki.
Setelah salam sebelum aku mengerjakan sholat ashar
sempat ku pandangi sosok yang menjadi imam sholat tadi. Laki-laki itu nampak
sudah cukup tua, benang-benang putih bermunculan dari kulit kepalanya.
Pakaiannya tampak rapi meski kerutan di baju lengan pendeknya masih menandakan
bahwa bajunya tidak disterika. Ada cahaya bening yang ku tangkap dari raut
wajahnya yang juga sudah berkerut di bagian bawah mata.
”eh...kok
malah ngalamun, ayo sekalian sholat ashar!” tepukan Bulek di bahuku Bulek
mengagetkanku.
Pemandangan
yang lebih mengejutkan kembali ku saksikan di terminal Pekalongan. Setelah aku
duduk manis di kursi sebelah Bulek ku lihat Pak sopir membuka pintu depan bus
yang ku naiki dan menempatkan diri setelah melihat hampir seluruh kursi telah
penuh dengan penumpang. Subhanallah...Pak sopir itu ternyata orang yang tadi
menjadi imam sholat dhuhur di mushola. Kesejukan yang terpancar dari wajahnya
masih ku lihat. Bedanya hanya sekarang dia mengenakan baju dinasnya; celana
panjang, kaos pendek dan handuk kecil yang dikalungkan dilehernya. Mungkin
inilah yang ustadz bilang sebagai Guru besar di universitas kehidupan. Dia
mengajar kita bukan di kelas ber AC maupun dengan membawa komputer jinjing di
tangannya, tapi mengajar kita dengan akhlak.
* * *
Empat
hari sudah aku terbaring di rumah sakit Roemani. Dari percakapan kakek dan dokter yang baru saja memeriksaku aku tahu
bahwa terkena gejala radang tenggorokan dan maagh. Kakekku yang baru pulang
setelah tiga minggu ke luar kota untuk mengurus bisnisnya sempat kaget waktu
nenek mengabarinya bahwa aku sakit keras. Mungkin kakek kaget mengapa aku yang
baru beberapa hari tinggal di rumahnya bisa tiba-tiba sakit dan sampai harus
dibawa ke rumah sakit. Memang, meski baru seminggu ku pijakkan kaki di kota
ATLAS ini tapi rasanya aku sudah tidak betah. Yang jelas bukan karena fasilitas
yang nenek berikan padaku kurang memadai karena nenek memperlakukan aku sebagai
cucu istimewanya. Maklumlah, aku satu-satunya cucu laki-laki dari kakek dan
nenek karena dari ketiga anak mereka Ibuku lah yan melahirkan anak laki-laki.
Bulek Karti tidak mempunyai anak, sejak suaminya meninggal ia memutuskan untuk
tidak menikah lagi. Sedangkan Budhe Marti, ketiga anaknya perempuan semua dan
di juga tinggal di luar Jawa bersama suaminya dan cuma setahun sekali sowan ke
rumah kakek dan nenek. Entahlah, mungkin karena aku belum bisa beradaptasi
dengan kondisi dan suasana perkotaan. Bayangkan saja, di rumah sebesar tiga
kali rumah Bulek di Pemalang cuma dihuni aku, kakek, nenek, mbok Yem dan satu
kamar cukup besar di dekat gerbang untuk tempat istirahat pak satpam dan pak
supir. Aku sering merasa sepi di sini meskipun aku bisa nonton TV, main PS,
ataupun mendengarkan musik dari DVD player
. Bagaimana aku bisa betah, aku yang di desa sering bermain bersama teman-teman
sepulang sekolah dan mengikuti kegiatan mengaji tiap Jum’at sore sekarang lebih
sering di dalam rumah. Suasana di kota memang kental dengan individualisme.
Nenekku saja yang sudah lama tinggal di perumahan ini tidak kenal dengan
satupun anak tetangga yang berusia sebayaku. Semua itu mungkin dikarenakan
tingkat interaksi sosial dengan frekuensi sangat rendah sehingga tak heran jika
nama tetangga yang satu RT saja masih banyak yang tidak tahu. Tidak seperti di
desaku yang memilki banyak kegiatan yang memungkinkan masyarakatnya untuk
saling mengenal satu sama lain, di perumahan tempat nenek tinggal hanya ada
kegitan rutinan arisan tiap satu bulan sekali. Sedangkan di desaku, hampir
semua nama tetangga baik satu RT maupun RW mungkin Bulekku kenal. Tapi...ada
satu lagi yang membuatku lebih shock.
Bagaimana tidak...hari itu hari pertamaku masuk ke sekolahku yang baru, yang
katanya sekolah favorit pilihan nenek.
”Pak
Bejo, ini benar sekolah Fadhil yang baru?” aku hampir tak percaya waktu Pak
Bejo, supir pribadi kami menghentikan mobil di depan sebuah sekolah yang di
sebelah pintu gerbangya bertuliskan LOYOLA School.
”Benar,
Den. Kata juragan putri inilah
sekolah favorit yang beliau janjikan ke Den
Fadhil” jawabnya lugu.
Aku
segera turun setelah Pak Bejo meebukakan pintu mobil untukku. Ku rapikan
kembali baju dan ku gendong tas punggungku. Gedung yang nampak megah meskipun
baru diamati dari luarnya membuatku berprediksi tentang fasilitas di dalamnya.
Namanya juga orang desa. Di sekolahku sebelumya tak ada fasilitas kelas full AC Apalagi gedung bertingkat, tapi
bukan berarti sekolahku adalah sekolah yang ecek-ecek. Sekolahku yang dulu
merupakan sekolah Negeri terfavorit di Ulujami, sekolah dengan bangunan tak
bertingkat, meski demikian dibangun di atas tanah yang cukup luas. Selain itu
sekolahku selalu menunjukkan keunggulan mutunya dengan meraih peringkat nilai
UN dan kelulusan tertinggi dibandingkan dengan sekolah Negeri maupun swasta
lain.
Semakin terkejut aku saat ku tatap
sekelilingku. Ratusan
siswa-siswi berlalu lalang. Bukan gaya mereka yang fashioanable dan stylish yang membuatku terheran-heran dengan apa yang
ku saksikan kali ini, melainkan berjubel tanya di hatiku yang ingin segera ku
sampaikan pada nenek. Sekelompok anak perempuan yang baru saja melintas di
depanku memang cantik-cantik, aku mengatakan demikian karena aku laki-laki
normal yang juga bisa tergoda dengan keanggunan dan kecantikan perempuan. Kulit
putih mereka dipadu dengan rambut lurus yang nampaknya alami, tidak seperti
temanku Santini yang rambutnya terlihat agak kering dan rusak akibat direbonding. Ditambah lagi mata sipit yang
membuat mereka semaikin terlihat mempesona saja di hadapan kaum adam. Siswa laki-laki
yang berlalu lalang juga tak kalah necisnya. Mereka mempunyai warna kulit dan
mata sipit yang sama seperti mata-mata sipit yang gadis-gadis ayu baru saja
sempat ku amati. Tapi satu hal yang memunculkan tanda tanya besar, kalung itu.
Ya kalung-kalung dengan liontin salib yang menggantung di leher mereka. Aku
dapat melihatnya dengan jelas karena mereka dengan PD-nya mengeluarkannya dari
baju seragam mereka sehingga tampak jelas di bawah kerah baju seragam yang
mereka pakai.
Aku merasa seperti orang asing,
berbeda dengan mereka yang mungkin tak meresa asing padaku karena penampilan
fisikku juga tak jauh beda dengan mereka. Dari garis bapak aku memang memiliki
darah keturunan china. Baik mbah kakung maupun anak-anaknya memang berkulit putih dan bermata sipit,
hanya saja Ayahku yang terlihat berbeda karena matanya saja yang sipit sedangkan
warna kulitnya lebih mirip dengan mbah putri yang orang Jawa Asli. Dulu mbah
kakung adalah anak dari seorang muallaf dari marga Chung Hwa kemudian berganti
nama menjadi Muhammad Abdurrahman dan nama Ayahku sendiri adalah Sidrotul Kirom.
Tiba-tiba Jantungku berdetak semakin
kencang. Inikah sekolah favorit pilihan nenek?
Sosok berbaju putih dengan
stetoskop yang menggantung di bajunya itupun meninggalkan aku dan kakek di
ruang VVIP kemudian nenek datang dengan
membawa sekeranjang buah dan meletakkannya di meja.
Perlahan ku coba sandarkan punggungku ke dinding
di belakangku.
” Fadhil, jangan banyak bergerak dulu.
Kamu masih perlu banyak istirahat!” sergah nenek saat aku berhasil menyandarkan
punggungku yang terasa kaku karena sudah beberapa hari ini cuma untuk
berbaring. Aku cuma tersenyum dan meyakinkan dengan isyarat bahwa aku baik-baik
saja. Sekilas ku memperhatikan wajah kakek. Aku menangkap ada sesuatu yang
aneh, seperti yang pernah ku lihat saat kakek marah kepada anak yang memukulku
dengan batu waktu kekek mengunjungiku di Klaten sewaktu ku masih berumur tujuh
tahun dulu.
” Bu, apa benar yang dikatakan
Bejo bahwa Ibu memasukkan Fadhil ke sekolah LOYOLA?” tanya kakek dengan nada
dingin.
”iya, benar. Itu kan sekolah
swasta favorit di Semarang. Lha wong Jeng
Lim dan Jeng Ranta juga bilang seperti itu” jawab nenek dengan santai.
”Ibu sadar ambil keputusan
itu? Ibu tahu kan siapa mereka? heeh..pantas saja kalau mereka bilang seperti
itu. Ibu nggak lihat kalau tiap ahad pagi mereka bawa alkitab dan rajin
mengunjungi gereja?” suara kakek meninggi, sepertinya ada api kemarahan di
hatinya.
”Apa iya sih , Pak?
Tapi...tapi Ibu tidak tahu. Ibu kenal mereka lewat arisan bulanan. Toh wajah
Jeng Ratna juga nggak berbau china sedikitpun jadi Ibu pikir mereka berkata
seperti itu bukan karena...”
”pokoknya aku tidak setuju!
Fadhil, cucu kesayanganku bersekolah di sekolah itu, titik! ” potong kakek yang
seketika itu membuat mata nenek memerah. Aku yakin sebentar lagi ada bulir
bening yang akan menghujani pipinya.
Aku
hanya bisa terdiam karena tenggorokanku masih sakit dan kalaupun aku berbicara,
mereka tak akan mendengar dengan jelas apa yang aku katakan karena suaraku
serak hilang entah kemana, mungkin tertahan oleh kekecewaanku yang diakui atau
tidak menjadi salah satu beban pikiran hingga aku terbaring di ruang bercat
serba putih ini.
* * *
Pagi
itu aku sudah merasa lebih baik setelah tiga hari yang lalu dokter mengijinjkan
aku pulang dari rumah sakit Roemani. Mbok Yem masuk ke kamarku sambil
membawakan segelas susu dan sepiring kue di nampan lalu meletakkannya di meja
sebelah ranjangku.
”Den, tadi kakek meminta Den
Fadhil untuk sarapan bersama di ruang makan kalau hari ini Den Fadhil sudah tidak lemes lagi”. Kata mbok Yem sebelum meninggalkan
kamarku.
”Alhamdulillah, Mbok. Fadhil
sudah merasa lebih seger hari ini. Sampaikan pada kakek dan nenek sebentar lagi
Fadhil ke ruang makan” kataku sambil menyisir rambut berpotongan gaya mandarinku
yang masih basah karena habis keramas.
”baik,
Den”
Aku
segera melangkah menuju ruang makan setelah meminum segelas susu hangat buatan
mbok Yem. Rupanya Kakek dan nenek sudah menunggu. Sepertinya kakek ingin
menyampaikan sesuatu. Aku mencoba menepis rasa penasaran itu dan menyapa
mereka. Mereka pun tersenyum padaku dan aku menangkap kegembiraan di mata kakek
dan nenek. Aku ikut senang karena mereka akhirnya bisa kembali terlihat mesra
lagi setelah dua hari selepas kemarahan kakek di ruang VVIP waktu itu.
Kami menikmati sarapan pagi hari ini
dengan hati bahagia. Setelah selesai makan kakek membuka pembicaraan.
”bagaimana
keadaanmu sekarang, Fadhil?” tanya kakek.
”Alhamdulillah,
kek. Fadhil sudah merasa kembali sehat seperti semula”
”syukurlah, kakek merasa
senang mendengarnya. Ehm...kakek sudah mengurus surat pindah sekolah untukmu
dan kakek ingin tahu apakah kamu sudah punya pilihan dimana kamu ingin
melanjutkan studimu”.
”Ha! Apa aku nggak salah
dengar? kakek memperbolehkanku memilih sekolah lanjutan sesuai dengan
keinginanku?” bisikku dalam hati.
Sejenak
pikiran ku langsung tertuju pada Nabil. Oh, seandainya saja dia tahu bahwa aku
akan pindah ke sekolah yang sama dengannya. Ups...bukan sekolah, tapi di
madrasah dan tinggal di asrama pondok pesantren.
”kok diam saja? dijawab tho” aku tersadar dari lamunanku.
”Miftakhul ’Ulum!” seruku karena
terkaget.
”ehm...ya, kek Fadhil ingin
pindah ke Pondok pesantren Miftakhul ’Ulum. kebetulan teman baik Fadhil juga
mondok di sana”
”bagus itu! Kakek setuju. Dimana
alamatnya?” sambut kakek merespon usulku.
”Pekalongan” jawabku singkat.
Ku lihat sekilas kakek menatap nenek sepertinya
ingin meminta persetujuan nenek karena dengan Fadhil melanjutkan sekolah di
Pekalongan berarti meraka harus berpisah jarak dan akan jarang bertemu lagi
dengan cucu kesayangan mereka. Nenekpun tersenyun dan mengangguk. Sepertinya
aku menangkap ketulusan dari anggukan nenek meski ku tahu pada awalnya nenek
pasti merasa berat, mungkin karena dia merasa bersalah sempat memilihkan
sekolah yang katanya favorit untukku.
”Baiklah,
Fadhil. Kakek akan mendaftarkanmu ke sana” lega rasanya, bagaikan ada angin
sepoi membelai tubuh yang sempat kegerahan.
”ehm...tapi, kek. Kayaknya
kegiatan perkenalan di madrasahnya sudah dimulai sejak seminggu yang lalu. Apa
aku masih bisa diterima disana?” tiba-tiba ada kekehawatiran dalam benakku.
”oh, masalah itu...kamu tenang
saja, toh kamu pindah bukan karena terlibat ”kasus”, nilaimu juga sangat baik.
Jadi...kamu jangan khawatir, untuk yang satu ini serahkan sama kakek” Kakek
memang jempolan kalau untuk mengurus hal-hal yang seperti ini, dia pintar
sekali dalam hal lobi karena keyakinan dia, selama dia berada dalam kebenaran
kenapa harus takut.
”oya, kemarin ada surat dari
Ibumu untukmu, coba kau baca sekarang”. Ujar kakek seraya mengulurkan amplop
berwarna biru muda padaku.
Apa? surat? Jarang sekali Ibu menulis surat.
Biasanya Ibu menelponku sebulan sekali lewat telpon rumah tetangga sebelah
rumah Bulek. Dengan perlahan ku buka surat itu.
Assalaamu’alaikum, Ananda sayang...
Apa kabarmu, nak? Ibu do’akan semoga kau selalu dalam lindungan Allah Sang
Maha memberi hidayah. Ibu juga berdo’a semoga kau semakin rajin ibadah, jadi
bukan hanya nilai sekolahmu saja yang semakin baik tapi derajatmu di sisi Allah
juga mulia.
Bulan depan kontrak Ibu bekerja sudah habis dan Ibu memutuskan untuk
pulang. Ibu berjanji tidak akan meninggalkanmu ke tempat yang jauh lagi. Uang
dari gaji Ibu insya Allah sudah cukup untuk modal usaha di kampung halaman dan
insya Allah cukup untuk biaya sekolahmu hingga kau kuliyah nanti.
Alhamdulillah, majikan Ibu adalah
yang sangat baik. Selain dia mengajarkan banyak hal tentang agama Islam dia
juga mengijinkan Ibu untuk mengikuti kursus seminggu sekali.
Rasanya Ibu sudah tak sabar lagi ingin bertemu denganmu, nak. Semoga
Allah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua. Amien.
Yang selalu menyayangimu Ibu
Tak
terasa bulir-bulir bening telah membasahi pipiku dan menetes dikertas berwarna
biru muda kesukaanku. Saat ku tengok amplop surat itu ternya masih ada beberapa
lembar foto di dalamnya. Subhanallah...hampir saja aku pangling melihat foto Ibuku sendiri. Dia terlihat lebih anggun
dengan jilbab yang dikenakan di semua foto itu. Di sebelahnya juga perempuan
yang juga berjilbab. Baru kali ini aku melihat Ibu berfoto dengan memakai
jilbab. Biasanya aku meliaht Ibu berjilbab hanya ketika mau mengikuti pengajian
mingguan atau takziyah. Aku teringat sesuatu, jelas dan semakin jelas, baris
cinta yang ku hafal dan sepertinya kali ini baru ku temukan rahasia-Nya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh
jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”
Terima kasih, ya Allah.Ada kesejukan mengaliri
relung hati yang telah lama memendam gundah. Ada kedamaian yang menggantikan
ruang-ruang sepi dan keresahan jiwa. Inikah rahasia dari baris ayat cinta yang
ku baca dan sempat mengundang sejuta tanya di jiwa? Inikah makna dari cobaan
selama ini ku rasa? Subhanallah...Pemilik sekenario kehidupan yang tak pernah
linear. Ada perpisahan, ada pertemuan. Ada kesedihan, ada kebahagiaan.
Shodaqallah...yang tak pernah menyalahi janji-Nya. Inginku segera bersujud syukur pada-Mu, ya
Rabby...Engkau telah mengajarkanku makna kehidupan dengan cara yang sangat
indah, meski terkadang meneteskan airmata seorang hamba yang lemah ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar