Untuk Sebuah Mimpi
Duduk
termenung berpayung mendung
Menunggu
harapan menjemput impian
Memang,
Terkadang
resah menghadang;
Takut
hilang
Sesekali.
hapuslah
peluh yang mulai bercampur dengan bulir dari langit
Dingin
sedikit tak apa
Api unggun malam ini yang kan mengikisnya
Ayolah…
Tinggal
selangkah lagi
Kau
ingat bintang yang pernah kau tunjuk?
Ingat
saja terangnya, kelipnya
Dan
kembalilah melangkah
Written under raining fall in front of the campus
waiting for my bus_ catatan jaman kuliahan_
Wangi Surga
Wangi
surga semerbak
Menyeruak
searah jarum jam berdetak
Langit
terharu, menangis bahagia
Hingga
gerimis pulang mengutus senyum rembulan
Masih,
Masih
tampak hangar binger cahayanya
Menembus
celah jendela kamar
Yang
tak tertirai karena keterbatasan
Tidur
beralas cahaya-Nya
Di
bawah temaram kedamaian
Betapapun
terima kasih terwujud dalam syahdu sujud
Syukurku
tak ‘kan cukup terhatur
Biarlah
alam serempak memuji,
Jika
pujiku tak cukup mewakili
Inspired by happiness in a graduation day, May 26,
2010.
Harga Sebuah Proses
Ada
kesejukan di tiap tetesan
Berhenti
tangis kau tahan
Secercah
senyum pada linangan
Sesabar
kepompong menabung harapan
Untuk
apa semua keceriaan itu
Sedang
bahagiamu terenggut waktu
Hambar,
Bak
potret tak bergambar
Sekejap
kelar,
Lalu
terkapar
Terdampar
di fatamorgana
Di
buai wangi surga
Terleka
di dunia maya
Terkoyak,
terpedaya
Tiap
hembusan adalah hidup
Usah
tergugup risau kuyup
Tak
perlu mata kau tutup
Terlalu
ironi ‘tuk pasrah
Terkatup
bisu tanpa langkah;
Bangun!
Lihatlah!
Betapa
kupu-kupu itu indah?
Inspired by a film “13 Goimg on 30”
Mengintip hari
Esok
Bumi
terhampar begitu luasnya
Atap
kokoh lapis tujuh masih menyelimut,
Menyajikan
gemintang bertabur
Kunang-kunang
pun bermandikan cahaya
Malaikat
masih setia pada titah
Tiada
mampu taqdir ditegah
Lancang
ku merayu
Berharap
meneropong lorong waktu
Aku
terhempas, nahas
Beruntung
nafas tak lepas
Tapi
satu ku tahu;
Misteri
ini begitu indah
Seindah
menanti esok cerah
Inspired by a film “13
Going on 30”
Setengah Dewa
Bulan
separuh bercermin di danau keruh
Bertahta
di singgahsana menanti purnama
Entahlah,
kemana setengah terpecah
Menyembul
kelabu pekat
Bertabur
kelip memikat
Tenggelam
dalam jubah hitam alam
Meski
tak larut terpendar kelam
Terlalu
pagi tuk jemput senja
Berkawan
kelelawar, berkelakar
Hingga,
Enggan
mencoret hitam fajar yang merekah indah
Biar
detik membekas getir
Hingga
hati yang pandir menafsir berdamai dengan taqdir
(Semarang
09 Juni 2010 10.27 p.m.)
Renung
Mata
menangkap sinar
Telinga
mendengar
Tapi,
kemana sukma terbiar?
Mungkin
tersesat di lembah
Atau
terpeleset jatuh ke kawah
Di
sapa pasrah,
Namun
tiada lelah
Tiada
menyerah
Hidup
itu pilihan
Mati
itu suratan
Di
antara keduanyalah kesyukuran;
Atas
nama, cita dan cinta
Untuk
duka, untuk kurnia
Semua
akan lebih berarti
Jika
kita mengerti
Written in (Ika Dani’s boarding house) Sekaran, June
15, 2010, at 11.22 p.m.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar