Selasa, 30 Desember 2014

CELOTEH GANTAI BOLANG ULUJAMAICA



 Untuk Sebuah Mimpi

Duduk termenung berpayung mendung
Menunggu harapan menjemput impian
Memang,
Terkadang resah menghadang;
Takut hilang

Sesekali.
hapuslah peluh yang mulai bercampur dengan bulir dari langit
Dingin sedikit tak apa
Api  unggun malam ini yang kan mengikisnya
Ayolah…
Tinggal selangkah lagi
Kau ingat bintang yang pernah kau tunjuk?
Ingat saja terangnya, kelipnya
Dan kembalilah melangkah
Written under raining fall in front of the campus waiting for my bus_ catatan jaman kuliahan_


Wangi Surga

Wangi surga semerbak
Menyeruak searah jarum jam berdetak
Langit terharu, menangis bahagia
Hingga gerimis pulang mengutus senyum rembulan
Masih,
Masih tampak hangar binger cahayanya
Menembus celah jendela kamar
Yang tak tertirai karena keterbatasan
Tidur beralas cahaya-Nya
Di bawah temaram kedamaian

Betapapun terima kasih terwujud dalam syahdu sujud
Syukurku tak ‘kan cukup terhatur
Biarlah alam serempak memuji,
Jika pujiku tak cukup mewakili

Inspired by happiness in a graduation day, May 26, 2010.


Harga Sebuah Proses

Ada kesejukan di tiap tetesan
Berhenti tangis kau tahan
Secercah senyum pada linangan
Sesabar kepompong menabung harapan

Untuk apa semua keceriaan itu
Sedang bahagiamu terenggut waktu

Hambar,
Bak potret tak bergambar
Sekejap kelar,
Lalu terkapar

Terdampar di fatamorgana
Di buai wangi surga
Terleka di dunia maya
Terkoyak, terpedaya

Tiap hembusan adalah hidup
Usah tergugup risau kuyup
Tak perlu mata kau tutup
Terlalu ironi ‘tuk pasrah
Terkatup bisu tanpa langkah;
Bangun!
Lihatlah!
Betapa kupu-kupu itu indah?

Inspired by a film “13 Goimg on 30”


Mengintip hari Esok

Bumi terhampar begitu luasnya
Atap kokoh lapis tujuh masih menyelimut,
Menyajikan gemintang bertabur
Kunang-kunang pun bermandikan cahaya

Malaikat masih setia pada titah
Tiada mampu taqdir ditegah

Lancang ku merayu
Berharap meneropong lorong waktu
Aku terhempas, nahas
Beruntung nafas tak lepas

Tapi satu ku tahu;
Misteri ini begitu indah
Seindah menanti esok cerah
Inspired by a film “13 Going on 30”


Setengah Dewa

Bulan separuh bercermin di danau keruh
Bertahta di singgahsana menanti purnama
Entahlah, kemana setengah terpecah

Menyembul kelabu pekat
Bertabur kelip memikat
Tenggelam dalam jubah hitam alam
Meski tak larut terpendar kelam

Terlalu pagi tuk jemput senja
Berkawan kelelawar, berkelakar
Hingga,
Enggan mencoret hitam fajar yang merekah indah
Biar detik membekas getir
Hingga hati yang pandir menafsir berdamai dengan taqdir


(Semarang 09 Juni 2010 10.27 p.m.)

Renung

Mata menangkap sinar
Telinga mendengar
Tapi, kemana sukma terbiar?

Mungkin tersesat di lembah
Atau terpeleset jatuh ke kawah
Di sapa pasrah,
Namun tiada lelah
Tiada menyerah

Hidup itu pilihan
Mati itu suratan
Di antara keduanyalah kesyukuran;
Atas nama, cita dan cinta
Untuk duka, untuk kurnia
Semua akan lebih berarti
Jika kita mengerti

Written in (Ika Dani’s boarding house) Sekaran, June 15, 2010, at 11.22 p.m.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar